Banjarnegara – Semangat mengikuti Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan (AKGTK) tetap membara di MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA), meskipun pelaksanaan pada hari pertama diwarnai sejumlah kendala teknis. Seluruh guru kelas MIFABARA mengikuti AKGTK secara daring dari madrasah dengan penuh kesiapan dan antusiasme.(5/10)
Sejak awal, para guru telah mempersiapkan diri untuk mengikuti asesmen. Perangkat disiapkan, jaringan diperiksa, dan berbagai kebutuhan teknis dipastikan agar pelaksanaan berjalan lancar. Namun, ketika asesmen dimulai, tantangan justru datang dari sistem.
Pada sesi pertama, para peserta mengalami kendala saat melakukan login. Sebagian guru mengalami error sehingga tidak dapat mengakses asesmen sebagaimana mestinya. Kondisi tersebut membuat tidak satu pun peserta dapat menyelesaikan soal pada sesi pertama.
Alih-alih menyerah, para guru tetap berusaha mengikuti perkembangan sistem dan menunggu arahan selanjutnya. Semangat untuk mengikuti asesmen tidak surut meskipun kesempatan pertama belum berjalan sesuai harapan.
Kendala kembali terjadi pada sesi kedua. Saat para guru sudah berhasil masuk dan mulai mengerjakan soal, sistem kembali mengalami gangguan di tengah proses pengerjaan. Gangguan server tersebut menyebabkan proses asesmen kembali tidak dapat berjalan secara optimal.
Situasi tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi para guru MIFABARA. Di satu sisi, mereka telah mempersiapkan kemampuan akademik dan pedagogiknya untuk menghadapi asesmen. Namun di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada tantangan yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, yaitu kendala teknis dari sistem.
Namun, satu hal yang tidak ikut mengalami error adalah semangat para guru.
Kepala MIFABARA, menyampaikan apresiasi atas kesabaran dan ketangguhan seluruh guru dalam menghadapi kendala pelaksanaan AKGTK.
“Kita sudah berusaha mempersiapkan semuanya dengan sebaik-baiknya. Ketika ada kendala teknis, tentu ada rasa kecewa, tetapi jangan sampai itu mematahkan semangat. Justru ini menjadi pengalaman bagi kita untuk lebih siap menghadapi pelaksanaan berikutnya,” tutur beliau.
Menurutnya, asesmen bukan semata-mata tentang hasil yang diperoleh, tetapi juga menjadi bagian dari proses refleksi dan peningkatan kompetensi guru.
“Yang terpenting adalah kita tetap belajar, tetap siap, dan tetap memberikan yang terbaik. Kalau nanti ada jadwal ulang, mari kita sambut dengan semangat yang lebih besar. Kita jadikan pengalaman hari ini sebagai bekal untuk menghadapi kesempatan berikutnya,” lanjutnya.
Bagi MIFABARA, pengalaman AKGTK hari pertama memberikan sebuah pelajaran penting: tidak semua hal dapat dikendalikan, tetapi sikap dalam menghadapi keadaan selalu dapat dipilih.
Guru-guru MIFABARA memilih untuk tetap tenang, bersabar, beradaptasi, dan terus belajar. Sebab, menjadi guru bukan hanya dituntut memiliki kompetensi dalam mengajar, tetapi juga memiliki ketangguhan dalam menghadapi berbagai situasi.
Hari pertama AKGTK akhirnya tidak hanya menjadi cerita tentang login yang gagal, server yang error, atau soal yang belum terselesaikan. Lebih dari itu, hari tersebut menjadi cerita tentang guru-guru yang belajar bahwa ketika sistem boleh mengalami gangguan, semangat untuk terus berkembang tidak boleh ikut berhenti.
Kini, seluruh guru MIFABARA menanti jadwal berikutnya dengan satu tekad:
“Kesempatan boleh diulang, semangat harus terus menyala. MIFABARA siap kembali mencoba, lebih siap, lebih tenang, dan lebih bahagia.”
Karena bagi guru MIFABARA, gagal pada sistem bukan berarti gagal dalam perjuangan. Justru dari situlah tumbuh kesiapan untuk bangkit dan memberikan yang terbaik.(nas)
