Cahaya Peristiwa Isra Mikraj: Penyuluh KUA Pagentan Ingatkan Urgensi Shalat sebagai Mikrajnya Orang Beriman

Banjarnegara (Humas) – Suasana khidmat menyelimuti Majelis Taklim Nurul Ilmi, Desa Kayuares, Kecamatan Pagentan pada Kamis (22/1/2026). Puluhan jamaah yang didominasi oleh kaum ibu berkumpul untuk menyimak bimbingan penyuluhan agama Islam yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan.

​Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati momentum besar Isra Mikraj Nabi Muhammad saw ini mengangkat tema sentral “Shalat sebagai Fondasi Kehidupan: Memaknai Perjalanan Langit dalam Kehidupan Sehari-hari.”

​Dalam tausiyahnya, Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan menekankan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan sejarah yang ajaib, melainkan sebuah peristiwa diplomasi langit di mana Rasulullah saw menerima perintah shalat lima waktu secara langsung tanpa perantara malaikat.

​“Shalat adalah satu-satunya ibadah yang perintahnya turun langsung di Sidratul Muntaha. Ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan shalat dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Jika Isra Mikraj adalah perjalanan fisik dan spiritual Rasulullah menuju Allah, maka bagi kita umatnya, shalat adalah media untuk ‘Mikraj’ atau berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta,” ujar sang Penyuluh di hadapan para jamaah.

​Ia juga menambahkan bahwa konsistensi dalam mendirikan shalat akan menjadi penentu kualitas hidup seseorang. Menurutnya, shalat yang dilakukan dengan benar akan tercermin dalam perilaku sosial yang santun dan penuh kasih sayang di tengah masyarakat.

​Hadir dalam kegiatan tersebut, Kitem, selaku Ketua Majelis Taklim Nurul Ilmi Desa Kayuares. Beliau menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya atas kehadiran penyuluh dari KUA Pagentan yang terus aktif memberikan edukasi keagamaan kepada warga desa.

​”Kami sangat bersyukur dengan adanya penyuluhan rutin ini. Tema Isra Mikraj ini sangat menyentuh hati kami para ibu, mengingatkan kembali bahwa sesibuk apapun kita di dapur atau di ladang, shalat jangan sampai ditinggalkan karena itulah cahaya yang akan menuntun keluarga 

​Selain membahas aspek spiritual, penyuluhan ini juga menyentuh aspek praktis bagaimana menjaga kekhusyukan shalat di tengah hiruk-pikuk kesibukan duniawi. Penyuluh mengajak para jamaah untuk menjadikan shalat sebagai momen “istirahat” dari beban hidup, bukan sekadar penggugur kewajiban.

​”Jangan jadikan shalat sebagai beban yang memberatkan, tapi jadikanlah ia sebagai kebutuhan. Sebagaimana tubuh butuh makan, maka ruh kita butuh shalat untuk tetap sehat dan kuat menghadapi ujian zaman yang semakin berat ini,” tambah sang Penyuluh dalam kutipan penutupnya.

​Acara yang berlangsung selama dua jam tersebut diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan kesejahteraan warga Desa Kayuares. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat dalam menjaga shalat lima waktu semakin meningkat, selaras dengan semangat transformasi spiritual yang dibawa oleh peristiwa Isra Mikraj.

(an/azd)