Combo Mustajab Ramadan: Jumat dan Hujan Satukan Doa Jamaah MT AS Salam Alian

Banjarnegara (Humas) — Rintik hujan yang turun di Dusun Alian, Desa Ambal, pada Jumat (27/2/2026) tidak menghalangi langkah ibu-ibu dan para simbah menghadiri pengajian Ramadan di Majelis Taklim (MT) AS Salam. Justru suasana itu terasa istimewa.

Ramadan yang penuh berkah, hari Jumat yang mulia, dan turunnya hujan yang dikenal sebagai waktu mustajab untuk berdoa, seakan menjadi “combo” keberkahan yang menyatukan jamaah dalam satu majelis penuh harap dan doa. Dengan khidmat, jamaah mengikuti pengajian yang menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Karangkobar, Duwi Rohmah, dalam suasana teduh dan penuh kekhusyukan.

Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan tentang keutamaan bulan Ramadan sebagai bulan penuh rahmat, ampunan, dan waktu-waktu mustajab untuk berdoa. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 186 tentang janji Allah yang mengabulkan doa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

“Setiap menjelang berbuka adalah waktu emas untuk berdoa. Terlebih jika bertepatan dengan hari Jumat, maka keberkahannya semakin berlipat. Jangan sampai sibuk menyiapkan hidangan, tetapi lupa bermunajat kepada Allah,” pesannya.

Duwi Rohmah juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat ibadah memasuki sepuluh hari kedua dan terlebih sepuluh hari ketiga Ramadan. Ia mencontohkan kesungguhan Rasulullah ﷺ sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, bahwa ketika memasuki sepuluh hari terakhir, beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarga, dan semakin bersungguh-sungguh dalam ibadah.

Selain itu, materi juga mencakup penjelasan tentang hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum dengan sengaja, muntah yang disengaja, hubungan suami istri di siang hari, serta haid dan nifas. Jamaah diingatkan agar memahami fikih puasa dengan baik agar ibadah yang dijalankan sah dan sempurna.

Pada kesempatan yang sama, Bapak Ustadz Abdul Hakim turut memberikan penguatan kepada jamaah. Ia mengingatkan pentingnya menghindari hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa, seperti berkata dusta, ghibah, marah berlebihan, serta perbuatan sia-sia. “Jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan haus, tetapi kehilangan pahala karena lisan dan perilaku,” ujarnya.

Ustadz Abdul Hakim juga menjelaskan tiga tingkatan orang yang berpuasa. Pertama, puasa umum, yaitu menahan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan secara lahiriah. Kedua, puasa khusus, yaitu menahan anggota tubuh dari maksiat seperti menjaga pandangan, lisan, dan pendengaran. Ketiga, puasa khususul khusus, yakni puasanya orang-orang yang menjaga hati dari selain Allah, sehingga seluruh orientasi hidupnya tertuju kepada-Nya.

Meski hujan turun sepanjang kegiatan, jamaah tetap antusias mengikuti pengajian hingga selesai. Acara ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah diberi kekuatan menjaga semangat ibadah hingga akhir Ramadan dan dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa semangat menuntut ilmu dan memperkuat iman tidak terhalang oleh cuaca, serta menjadi momentum mempererat ukhuwah di tengah keberkahan bulan suci.

(dr/azd)