Era Disrupsi, Tuntut Guru Dan Tendik Terus Berinovasi

Marching Band An Nida MAN 2 Banjarnegara dengan lagu”Yaa Lal Wathan”  menyambut kehadiran Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, H. Musta’in Ahmad di halaman Indoor MAN 2 Banjarnegara dalam rangka Pembinaan dan Sarasehan Guru dan Tenaga kependidikan MTsN 2 Banjarnegara dan MAN 2 Banjarnegara Selasa ini (10/11).

Kegiatan yang mengundang 167 Guru dan Tenaga kependidikan juga dihadiri Plt. Kankemenag Banjarnegara- H. Sumarna, Kasi Pendidikan Madrasah-Slamet Wahyudi, Kepala MAN 2- H. Imam Sayoga, Kepala MTsN 2- H. Ridlo Pramono juga Pengurus Komite Madrasah. Tema yang diambil adalah ‘Peningkatan Kualitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan Menuju Madrasah Unggul.”

Kakanwil menyatakan bahwa dalam peningkatan kinerja dan pelayanan, Kemenag Jateng memiliki slogan MAJENG (Moderat, Akuntabilitas, JErnih, NGayomi).  Seluruh jajaran Kemenag Jawa Tengah dari tingkat propinsi sampai tingkat Kabupaten/Kota, KUA dan Madrasah diharapkan bisa memberikan layanan yang  MAJENG ini, tuturnya.

Lebih lanjut, menghadapi era disrupsi ini, madrasah harus berinovasi dan berani untuk bersaing,bertanding, bermusabaqoh, sebagai tanda memiliki kualitas. Untuk itu penting peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan.

Tantangan pendidikan madrasah di era disrupsi adalah terbukanya persaingan. Fenomena SMP IT lebih diminati daripada MTs, Mahasiswa IAIN kebanyakandimasuki alumni SMA/SMK, Kedepan mungkin home schooling lebih diminati daripada sekolah formal. Maka madrasah harus berkualitas agar tetap diminati.

Kakanwil menegaskan bahwa kecerdasan bangsa sebagai jalan paling efektif untuk meningkatkan kesejahteraan. Kesejahteraan menuntun kehidupan bahagia, dan tidak bisa terwujud tanpa adanya keadilan. Keadilan, kesejahteraan dan kebahagiaan bisa dicapai melalui Pendidikan.

Madrasah diharapkan memiliki watak; keislamankeindonesiaankeilmuan, kemandirian dan keumatan. Dengan watak-watak ini, lulusan madrasah diharapan bisa jadi pemimpin di tengah masyarakat meski tidak melanjutkan kuliah.

Tantangan berikutnya adalah berkembangnya teknologi. Tentunya dengan teknologi bisa membangun sistem yang membantu dan mempermudah kegiatan secara tepat yang selanjutnya dimanfaatkan sebaik-baiknya, sebagai contoh Simpatika dan e-learning.

Dengan pembelajaran yang masih konvensional, Mustain berharap guru bisa meningkatkan kualitasnya melalui pelatihan, diklat, forum diskusi lainnya yang mendukung pengembangan profesionalitas guru.

Guru perlu juga belajar manajemen yang baik dengan banyaknya administrasi guru yang menjadi bagian tugas guru selain mengajar. “Disamping itu komunikasi yang baik dan efektif, kepercayaan dan kesetiaan terhadap organisasi perlu dibangun,” tandasnya.

Diakhir pembinaan, Kakanwil berharap Madrasah untuk selalu bisa bersaing dan bertahan. Jangan ragu untuk berinovasi dan mengembangkan diri dengan tidak melanggar hukum dan norma yang berlaku. (Bowo/Mnh)