Banjarnegara (Humas) – Semangat kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia semakin meriah dengan partisipasi salah satu guru inspiratif MTs Negeri 1 Banjarnegara, Linara, dalam ajang Lomba Movieolog GTK Madrasah bertajuk “Agustusan di Media bareng GTK”. Perlombaan ini digelar oleh GTK Madrasah Kementerian Agama RI secara daring melalui platform Instagram dengan tema besar “Pendidikan dan Kebangsaan”.
Linara, yang sehari-hari mengajar Matematika, tampil membawakan naskah monolog berjudul “Integraka = Integritas + Merdeka, Menjaga Rumus Bangsa”. Dalam karyanya, ia menghadirkan metafora matematika untuk menggambarkan arti perjuangan, pengorbanan, dan kemerdekaan bangsa. Naskah tersebut memadukan unsur angka, persamaan, hingga grafik yang dikaitkan dengan nilai kebangsaan dan pendidikan.
Ditemui usai proses pengambilan video di salah satu ruang kelas madrasah, Linara mengaku bahwa keikutsertaannya dalam lomba ini bukan semata-mata untuk mengejar juara, tetapi untuk memberikan inspirasi.
“Saya ingin menyampaikan bahwa guru bukan sekadar pengajar angka, tetapi juga penjaga nilai. Dalam naskah saya, saya mengajak semua guru bertanya: mau jadi bilangan pembagi yang memecah belah, atau faktor pengali yang memperbesar daya bangsa? Itulah makna pendidikan sesungguhnya,” ungkap Linara penuh semangat.
Ia menambahkan, keterlibatannya juga sebagai bentuk kontribusi dalam menyemarakkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-80.
“Kemerdekaan itu bukan konstanta, ia harus terus dijaga dan dihidupkan dalam kelas, dalam hati anak-anak kita. Karena itu saya yakin, satu guru, sejuta mimpi, dan cinta tak terhingga akan menjaga Indonesia tetap menemukan jawabannya,”* tuturnya.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, memberikan apresiasi besar terhadap karya Linara.
“Kami bangga dengan Bu Linara. Ia berhasil memadukan profesinya sebagai guru Matematika dengan nilai kebangsaan dalam sebuah karya seni. Ini contoh nyata bagaimana guru madrasah mampu berinovasi, kreatif, sekaligus menginspirasi,” ucap H. Yatiman.
Lebih lanjut, ia berharap prestasi ini dapat menjadi motivasi bagi guru-guru lain untuk berkarya dalam bidang apapun, tidak hanya dalam ruang kelas tetapi juga di ruang publik.
“Madrasah selalu mendukung kreativitas para guru. Semoga karya Bu Linara tidak hanya menjadi tontonan, tapi juga tuntunan bagi masyarakat,” imbuhnya.
Guru Bimbingan Konseling (BK) MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Nasiah Ningrum, menilai keikutsertaan Linara dalam Lomba Movieolog memiliki dampak positif bagi siswa.
“Bu Linara memberi teladan bahwa keberanian untuk tampil adalah bagian dari pembelajaran. Anak-anak akan melihat gurunya tidak hanya mengajar di kelas, tapi juga berani berkarya di tingkat nasional. Itu sangat memotivasi,”* jelasnya.
Menurutnya, siswa dapat belajar bahwa matematika bukanlah mata pelajaran yang kaku, melainkan bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan kebangsaan.
Amira, salah satu siswi kelas 7 unggulan sastra dan seni, mengaku kagum dengan penampilan gurunya itu.
“Saya baru pertama kali melihat Matematika bisa dikaitkan dengan kemerdekaan. Cara Bu Linara menyampaikan sangat menyentuh, membuat saya ingin juga bisa menulis monolog seperti itu suatu hari nanti,” ungkap Amira.
Ia menambahkan, keikutsertaan gurunya membuat dirinya dan teman-teman semakin percaya diri untuk mengekspresikan bakat seni.
Lomba Movieolog GTK Madrasah sendiri merupakan bagian dari perayaan HUT RI ke-80 di ruang digital. Peserta lomba berasal dari seluruh jenjang madrasah di Indonesia, dengan syarat menampilkan video monolog berdurasi maksimal lima menit yang diunggah ke Instagram.
Kriteria penilaian mencakup kesesuaian tema, kekuatan pesan, kualitas akting, kreativitas visual, serta teknik produksi. Selain juara utama, lomba ini juga menyediakan kategori juara favorit berdasarkan jumlah like dan komentar di media sosial.
Dengan karya monolog ini Linara tidak hanya membawa nama MTs Negeri 1 Banjarnegara di kancah nasional, tetapi juga menunjukkan bahwa pendidikan dapat dikemas secara kreatif dan menyentuh hati.
H. Yatiman menutup dengan penuh optimis.
“Kami berharap keikutsertaan ini menjadi tonggak awal lahirnya karya-karya lain dari guru madrasah kami. Madrasah harus terus berdaya dan berkarya, sesuai tema besar kemerdekaan tahun ini.”
Melalui partisipasi ini, MTs Negeri 1 Banjarnegara sekali lagi membuktikan bahwa guru madrasah tidak hanya mendidik di ruang kelas, tetapi juga mampu berkontribusi di ruang digital untuk menyuarakan nilai kebangsaan dan pendidikan bagi generasi Indonesia. (Fy/La)
