Banjarnegara (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan kembali menyoroti isu penting terkait etika berkomunikasi dan interaksi sosial dalam perspektif keagamaan. Kali ini, fokusnya adalah bahaya tersembunyi dari kebiasaan yang sering dianggap sepele: memberikan tawaran atau bantuan tanpa didasari oleh niat yang jujur dan tulus.
Peringatan tegas ini disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin, dalam sesi Bimbingan Penyuluhan Keagamaan yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim (MT) Nasyiatul Aisyiyah Ranting Bulu Pagentan pada Rabu (12/11/2025). Bertempat di kediaman Ibu Mundriah, acara tersebut dihadiri oleh 23 anggota majelis taklim yang antusias menyimak materi bertajuk “Hati-Hati Jika Berbasa-Basi”.
Syaiful Abidin menggarisbawahi bahwa dalam ajaran Islam, setiap kata-kata dan tindakan hendaknya mencerminkan kejujuran hati. Ia secara lugas mengupas fenomena “basa-basi kosong” atau tawaran yang hanya bersifat formalitas. Menurutnya, praktik ini adalah perilaku yang berpotensi merusak, sebab dapat menimbulkan kekecewaan mendalam pada pihak yang ditawari.
“Menawarkan sesuatu harus berangkat dari hasrat tulus untuk berbagi. Bukan sekadar etika sosial yang hampa,” tegas Syaiful.
Beliau memberikan indikator sederhana untuk menguji ketulusan niat: respons emosional saat tawaran diterima. Jika hati merasa senang dan bahagia saat orang lain menerima pemberian kita, itu adalah tanda niat yang murni. Sebaliknya, rasa kecewa atau berat hati saat tawaran itu diambil adalah sinyal kuat bahwa tawaran tersebut hanyalah basa-basi palsu.
Syaiful melanjutkan penjelasannya dengan menghubungkan isu ini dengan prinsip dasar ajaran Islam tentang menjaga lisan dan menepati janji. Bahkan dalam hal-hal kecil, seperti menawarkan makanan, minuman, atau bantuan, seorang Muslim harus memastikan bahwa ia benar-benar bersedia. Tawaran yang tidak tulus, meskipun terkesan sopan, dinilai sebagai bentuk ketidakjujuran yang bisa mencederai hubungan silaturahmi.
Ketua MT Nasyiatul Aisyiyah Ranting Bulu Pagentan, Khusnul Khotimah, memberikan apresiasi tinggi terhadap materi yang disampaikan. Menurutnya, pesan tentang pentingnya niat dan bahaya basa-basi kosong adalah pengingat yang sangat relevan dan kontekstual bagi kehidupan sehari-hari anggota majelis taklim.
“Materi ini membuka mata kami. Hal yang kami anggap sepele seperti basa-basi, ternyata memiliki nilai ibadah yang tinggi jika didasari niat yang benar, dan sebaliknya bisa menjadi sumber dosa jika hanya formalitas,” ucap Khusnul.
Acara penyuluhan ini ditutup dengan sesi diskusi yang hidup, di mana para peserta Majelis Taklim berbagi pengalaman terkait dilema “basa-basi” di tengah masyarakat. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga mendorong implementasi akhlak yang lebih jujur dan tulus dalam setiap interaksi sosial.
(msa/ azd)







