Melukis Pot Bunga sebagai Ruang Berekspresi Siswa

Wanayasa – Sebagai wadah untuk mengekspresikan pontensi siswa, MTs Muhammadiyah Boarding School Wanayasa Banjarnegara mengadakan kegiatan melukis pot bunga di sepanjang jalan depan MTs Muhammadiyah Wanayasa. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari(5-7/3). 5 Maret 2021 kegiatan dilakukan oleh santriwati, sedangkan 7 Maret 2021 dilakukan santriwan.

Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk mengembangkan bakat dan minat siswa serta memberi wadah bagi mereka untuk berani mengekpresikan potensinya. Selain itu, untuk menanamkan kepedulian terhadap keindahan lingkungan sejak dini.

“Kegiatan ini diharapkan juga dapat menjadi sarana wisata hati dalam mengantisipasi kejenuhan rutinitas yang begitu padat. Pada gilirannya dapat mengembalikan kesegaran, semangat, dan kegembiraan siswa dalam mengikuti pembelajaran,” ucap Kepala Madrasah-Hasan Udin.

Santriwan dan santriwati melakukan kegiatan melukis pot bunga secara bergantian dengan dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok mengawali kegiatan dengan berdiskusi tentang tema yang disodorkan oleh panitia. Setelah menemukan konsep dan menggodognya dengan matang, mereka berbagi tugas. Ada siswa yang membuat sketsa, menyediakan peralatan, mewarnai, dan ada pula yang berperan sebagai pengamat.

Kebersamaan dan kerja sama dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan terbentuk secara otomatis di dalam diri siswa. Mereka saling memberi dan menerima dengan hati terbuka dan tidak egois demi terwujudnya harmonisasi.

“Persaingan antarkelompok ditegakkan secara sehat dan sportif. Keunggulan dan kelemahan kelompoknya maupun kelompok lain mereka akui  dengan jujur. Objektivitas mereka tinggikan, subjektivitas mereka kubur dalam-dalam,” ungkapnya.

Kejadian yang menggelitik terjadi ketika tiba-tiba hujan turun. Secara spontan mereka meraih benda yang ada untuk melindungi cat hasil karya mereka agar tidak luntur. Mereka menggunakan payung, lembaran seng, bahkan meja dan kursi di kelas sebagai penyangganya.

Mereka tidak berpikir bahwa apa yang mereka lakukan tersebut kurang tepat. Selain tidak pada tempatnya, tindakan mereka juga mengakibatkan mebelair menjadi rusak. “Di sinilah edukasi para guru dituntut,” tandas Kamad

Tidak dipungkiri bahwa dalam setiap kegiatan akan selalu muncul dampak sampingan. Dalam hal ini, cat tercecer, baju ternoda, bahkan peralatan madrasah yang menjadi lapuk. Namun, hal itu akan terbayar kelak ketika para santriwan/santriwati telah meraih keberhasilan dalam hidup dan kehidupan mereka.

Sedikit modal yang terbuang saat ini tidak akan sia-sia. Tugas guru adalah memberikan pengalaman belajar sebanyak-banyaknya bagi santriwan/santriwati, pungkasnya. (ns/mnh)