Puasa Ibarat Metamorfosis Kupu-Kupu

RAMADHAN telah kembali pada jiwa yang telah rindu. Di tahun ini, tepatnya selasa 13 April 2021 menjadi momen yang paling ditunggu umat muslim sedunia. Baik orang tua, remaja bahkan anak-anak. Sangat terlihat istimewa sekali. Bagi kita orang dewasa tentu sangat paham makna dari puasa, tak sebatas menahan lapar dan dahaga. Dengan puasalah yang mampu memahamkan kita akan makna ketaqwaan pada Ilahi. Bulan puasa menjadi bulan yang amat istimewa karena pada bulan tersebut Al-Quran diturunkan, Dan juga bulan yang menjadikan semua ritual ibadah dilipatgandakan pahalanya oleh Allah.

Pemahaman kita tentang puasa juga sangat terpengaruh oleh pemahaman-pemahaman dari orang tua kita dulu, selain dari pengaruh lingkungan.  Saya masih teringat semasa kecil dulu, sekitar usia 5 tahun yang mana sangat bahagia saat melihat orang-orang berduyun-duyun mendatangi masjid melaksanakan sholat tarawih. Setelah usai, suara bedug ditabuh anak sekitar usia 7 tahunan dengan lantunan sholawat, syahdu sekali.

Di pagi menjelang subuh, meski dalam kegelapan. suara riuh bersahutan membangunkan sahur. Mata kecil ini masih ngantuk sekali, namun sang ibu dengan lembut membangunkan saya untuk ikut bersantap sahur. Kemudian setelah ikut santap sahur, kami pun bergegas menunaikan ibadah sholat subuh.

Hal tersebut terus berulang setiap hari, hingga membekas dalam memori saya sampai sekarang ini. Sehingga sangat penting bagi orang tua atau guru menstimulasi dalam perkembangan agamanya. Salah satunya adalah puasa, pada masa golden age nya kita perlu mengenalkan puasa dengan cara-cara sederhana. Seperti anak selalu dilibatkan dalam kegiatan yang berkaitan dengan bulan Ramadhan, mulai dari melibatkan si kecil menyiapkan hidangan santap sahur dan buka puasa.

Mengikutsertakan si kecil pada saat kita tadarus Al-Quran, dan mengajak si kecil untuk sholat tarawih.  Hal sederhana diatas tentu akan berkesan dalam memorinya. Sebagaimana menurut prespektif psikodinamika, dalam buku psikologi perkembangan dijelaskan bahwa perkembangan anak pada masa kakak-kanak menentukan perkembangan kepribadian pada usia dewasa. Stimulasi positif dalam bentuk bimbingan, latihan dan pemberian pengalaman akan sangat membantu anak mencapai tahap perkembangan yang optimal.

Sedangkan dalam buku psikologi kepribadian, dijelaskan bahwa keluarga memiliki tugas mendidik anak sejak kecil, hidup dan berkembang. Mula-mula seluruh keluarga mengisi pribadi anak dengan menamkan kebiasaan di rumah, kemudian si anak menerima dengan daya peniruannya.

Dalam kaitannya pengenalan puasa, maka orang tualah yang memiliki tanggung jawab. Orang tua harus paham juga dengan setiap perkembangan anak. Karena usia 4-6 tahun adalah usia praoprasional, anak belum mampu berfikir secara kongkrit.

Saya pribadi sebagia pendidik di RA berupaya memahamkan apa itu puasa kepada anak didik. Bukan suatu hal yang mudah memang, apalagi jika harus menjelaskan secara teori bahwa puasa itu kewajiban yang Allah berikan kepada semua hambaNya. Saya sering menganalogikan puasa itu ibarat metamorfosis kupu-kupu dan saya menjelaskannya begini.

“Anak-anak ku sayang, kali ini kita akan belajar puasa dari ulat siapa yang berani memegang ulat…? (sambil saya perlihatkan ulatnya) ada yang teriak histeris ada juga yang menatapnya dengan takjub. Ulat itu makannya banyak, semua jenis daun dimakan. Rakus tidak ulat itu anak-anak? Saya mencoba menggambarkan sifat rakus pada ulat adalah sisi buruk dari sifat manusia. Tapi kemudian Allah perintahkan ulat itu untuk puasa, menahan untuk tidak makan daun, tidak minum, dan tidak melakuakn hal yang buruk. Akhirnya si ulat membungkus diri dalam kepompong. Ulat patuh sekali ya sama perintah Allah.

Setelah beberapa hari, perlahan-lahan keluarlah dari kepompong tersebut sayap yang warna-warni. Cantik bukan..? Lalu kemana ulat yang rakus tadi ya.. Ternyata Allah memberikan hadiah yang sangat indah berupa bentuk yang baru yaitu kupu-kupu. Ulat yang dulunya berbulu kini bersayap, yang dulunya makan daun kini makanannya adalah madu dan yang dulu membuat kita gatal saat menyentuhnya kini membantu tanaman. Waah luar biasa bukan. Begitulah diri kita kalau di bulan Ramadhan ini kita patuh sama Allah, nanti kita akan jadi kupu-kupu yang sangat indah, dan kita semakin dekat sama Allah ya. 

Dalam memahamkan apa itu puasa anak dapat belajar langsung dari seekor ulat. Kita juga bisa sambil bercerita kepada anak, mereka akan lebih fokus mendengarkan. Selain itu juga dapat melatih anak mempelajari hikmah dibalik suatu kejadian. Menurut Miranda Risang Ayu dalam bukunya Rumah Cahaya Kita menjelaskan bahwa dunia anak-anak dan cara berfikir mereka sangat khas, sebuah dunia dengan cara berfikir yang total dan imaginatif yang penuh rasa cinta dan ketulusan.

Sangat disayangkan jika kita sebagai pendidik atau orang tua beranggapan bahwa nanti toh mereka akan paham sendiri kalau sudah besar. Sikap pembiaran seperti ini melewatkan kita pada masa masa cemerlang mereka. Tentunya kita tidak ingin penyesalan dikemudian hari, saat mereka sudah tidak lagi tertarik makna puasa itu sendiri. Puasa hanya menjadi sebuah ritus tanpa makna.

Tentunya kita sebagai orang tua atau guru tidak ingin melewatkan bulan Ramadhan ini sebagai proses pembelajaran bagi anak didik kita. Kita harapkan nantinya anak-anak akan berkembang sempurna sesuai fitrahnya dengan pemahaman puasa sebagai bentuk ketaqwaan  kita kepada Allah. Mereka mampu memaknai puasa itu sebagai sebuah hakikat “menahan” menahan dari hal yang buruk untuk melakukan hal yang baik.

 

Oleh:

Ruliah / Guru RA di Kecamatan Banjarmangu