Zakat Fitrah, Momentum Penanaman Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Sosial

Banjarnegara – MIN 3 Banjarnegara menyelenggarakan Kegiatan Pengumpulan dan Pentasyarufan Zakat Konsumtif atau Fitrah di lingkungan madrasah Tahun 1442  Hijriah / 2021. Kegiatan tersebut di laksanakan mulai tanggal 27 April – 4 Mei 2021.  Setelah dibukanya pembayaran zakat fitrah pada hari Selasa (27/04) siswa-siswi MIN 3 Banjrnegara berduyun-duyun membayar Zakat Fitrah melalui Panitia Zakat Fitrah.

Giyanto selaku panitia pengumpulan zakat fitrah menyampaikan, siswa menyetor sejumlah uang dan beras yang mereka bawa dari rumah untuk dikumpulkan dan dibagikan kepada warga MIN 3 Banjarnegara  yang kurang mampu serta kaum dhuafa di lingkungan sekitar Madrasah.

“Zakat Fitrah yang di bayarkan dalam bentuk beras atau makanan pokok seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa. Kualitas beras atau makanan pokok  juga harus sesuai dengan yang kita konsumsi sehari-hari. Selain itu, jika berhalangan membayar dalam bentuk beras atau makanan pokok lainnya, Zakat Fitrah dapat ditunaiakan dalam bentuk uang seharga 2,5 kg atau 3,5 liter beras. Panitia memberikan pilihan senilai Rp. 25.000,- , Rp. 30.000,- atau Rp. 35.000,- hal tersebut sesuai surat pemberitahuan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara Nomor : 3406/Kk.11.04/3/BA.03.2/04/2021,” ungkapnya.

Lanjutnya saat menyerahkan zakat fitrah, siswa-siswi dianjurkan untuk membaca niat membayar zakat fitrah bertujuan agar mengeluarkan zakat fitrah tersebut dengan sepenuh hati dan ikhlas karena Allah Ta’ala.”Ujarnya

Dengan praktek langsung tata cara melafadzkan niat berzakat fitrah diharapkan siswa-siswi mendapat pengalaman spiritual yang luar biasa dan terbiasa sejak dini hingga kelak memikul tanggung jawab sebagai mukallaf sebagaimana orang tua mereka saat ini.”Tutupnya.

Sementara Dani Restiadji selaku Kepala Madrasah menyampaikan bahwasanya momentum pengumpulan Zakat Fitrah ini dimaksudkan sebagai Penanaman rasa empati siswa sejak dini selain kewajiban zakat fitrah tersebut adalah sebagai penyucian jiwa.

“Diharapkan nantinya setelah dewasa para siswa dapat mengaplikasikan dalam kehidupannya. Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan untuk memberikan stimulus positif kepada para peserta didik yang juga ikut dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, peserta didik bisa mengetahui siapa saja yang masuk dalam 8 Asnaf yang berhak menerima Zakat dan bagaimana klasifikasi karakter 8 Asnaf tersebut, jadi tidak sekedar teoritik tapi benar-benar kami dorong secara hermeunatik untuk mengerti rasa secara tekstual dan simbol-simbol rasa yang muncul saat para peserta didik ikut mengumpulkan dan mentasyarufkan ke 8 Asnaf yang berhak,” pungkasnya. (ind/ak)