Banjarnegara (Humas) – Dalam upaya meningkatkan literasi keagamaan dan kesadaran sosial warga, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pagentan menggelar sosialisasi intensif mengenai Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS). Kegiatan ini dilaksanakan di tengah pertemuan rutin kelompok Program Keluarga Harapan (PKH) Desa Majasari, yang dihadiri oleh puluhan Keluarga Penerima Manfaat (KPM), pada Kamis (5/3).
Hadir sebagai narasumber utama, Alfiana Nurhidayah, Penyuluh Agama Islam fungsional KUA Pagentan, yang memberikan pencerahan mengenai pentingnya manajemen keuangan berbasis syariah melalui instrumen ZIS. Kegiatan ini juga dikawal langsung oleh Pendamping PKH Desa Majasari, Niken Saraswati, yang bertindak sebagai fasilitator pertemuan.
Dalam paparannya, Alfiana Nurhidayah menekankan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan instrumen penting untuk menyucikan harta dan membantu sesama. Ia mengajak para ibu penerima manfaat PKH untuk mulai membiasakan diri berinfak dan bersedekah meski dalam jumlah yang kecil.
“Zakat dan sedekah bukan tentang seberapa besar nominal yang kita keluarkan, tetapi tentang keberkahan dan ketaatan kita kepada Allah Swt. Kami ingin mengajak ibu-ibu di sini untuk memiliki mentalitas ‘tangan di atas’. Meski saat ini menjadi penerima manfaat, dengan rajin bersedekah, insya Allah pintu rezeki akan terbuka lebih lebar sehingga suatu saat nanti bisa menjadi pemberi zakat atau muzakki,” ujar Alfiana Nurhidayah di hadapan para peserta.
Beliau juga menjelaskan perbedaan mendasar antara zakat yang bersifat wajib dengan syarat tertentu, serta infak dan sedekah yang lebih fleksibel. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak merasa terbebani, namun justru merasa butuh untuk berbagi sebagai bentuk syukur atas bantuan yang diterima dari pemerintah.
Sementara itu, Niken Saraswati selaku Pendamping PKH menyambut positif inisiatif dari KUA Pagentan. Menurutnya, edukasi spiritual seperti ini sangat dibutuhkan untuk mengimbangi bantuan materiil yang diterima KPM. Kesadaran akan zakat dan sedekah diharapkan dapat memotivasi KPM untuk mengelola bantuan PKH dengan lebih bijak dan berkah.
“Sinergi antara pendamping PKH dan penyuluh agama ini sangat krusial. Kami mengurus sisi pemberdayaan ekonomi dan sosialnya, sementara Ibu Alfiana menyentuh sisi spiritualnya. Kami berharap edukasi ini dapat mengubah pola pikir KPM agar tidak selamanya bergantung pada bantuan, melainkan terdorong untuk mandiri melalui keberkahan berbagi,” ungkap Niken Saraswati.
Pertemuan berlangsung interaktif. Banyak peserta yang bertanya mengenai teknis penghitungan zakat fitrah maupun zakat mal (harta), serta keutamaan sedekah subuh. Suasana kekeluargaan sangat terasa saat Alfiana menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh warga pedesaan.
Melalui kegiatan ini, KUA Pagentan berkomitmen untuk terus turun ke desa-desa, berkolaborasi dengan berbagai pihak guna memastikan pesan-pesan keagamaan sampai ke akar rumput. Harapannya, masyarakat Desa Majasari tidak hanya sejahtera secara ekonomi melalui program PKH, tetapi juga kaya secara spiritual melalui pemahaman ZIS yang benar.
(an/azd)
