Banjarnegara – Peringatan Hari Batik Nasional di MI Ma’arif Al Falah Joyokusumo (MIMAU) menjadi momentum bagi murid untuk mengenal dan mencintai budaya Indonesia melalui kegiatan kreatif. Kelas 2B bersama wali kelas Nurul Khikmah mengikuti pembelajaran membatik dengan memanfaatkan bahan sederhana pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Kegiatan dilakukan secara berkelompok dengan melibatkan seluruh murid dalam proses menyiapkan bahan hingga memberikan warna pada motif batik. Pembagian kelompok membuat murid belajar bekerja sama, berbagi tugas, serta saling membantu selama proses berlangsung.
Empat kelompok dibentuk dalam kegiatan tersebut. Kelompok 1 terdiri atas Baim, Gibran, Arka, Igas, Ajmil, dan Alfa. Kelompok 2 terdiri atas Zalika, Fiing, Adzkia, dan Inara. Kelompok 3 terdiri atas Aira, Azifa, Aishwa, Felin, dan Sharma. Kelompok 4 terdiri atas Arsya, Syauqi, Vino, Luki, dan Zico.
Dengan menggunakan bubuk kunyit sebagai warna dasar, murid mulai memberikan warna pada motif batik secara perlahan. Setelah itu, larutan detergen digunakan untuk menciptakan aksen warna kemerahan, sedangkan cuka digunakan untuk membantu merapikan dan mengontrol warna.
Selain menghasilkan karya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar tentang ketelitian. Murid perlu memperhatikan banyaknya larutan yang digunakan agar warna tidak terlalu basah dan tetap berada pada bagian motif yang diinginkan.
Kepala MIMAU, Wahyul Khomisah, mengapresiasi kegiatan kreatif yang dilakukan kelas 2B dalam memperingati Hari Batik Nasional.
“Batik merupakan bagian dari budaya Indonesia yang perlu dikenalkan kepada anak sejak dini. Dengan kegiatan seperti ini, murid dapat belajar mencintai budaya melalui pengalaman yang menyenangkan,” ujar Wahyul Khomisah.
Nurul Khikmah selaku wali kelas 2B menyampaikan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk membangun kekompakan antarmurid.
“Ketika bekerja dalam kelompok, anak-anak belajar untuk saling membantu dan bertanggung jawab. Mereka juga belajar bahwa sebuah karya yang baik membutuhkan ketelitian dan kesabaran,” ungkap Nurul Khikmah.
Menurut tim jurnalis madrasah, pembelajaran membatik tersebut menunjukkan bahwa pengenalan budaya dapat dilakukan melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak.
“Anak-anak terlihat menikmati prosesnya. Mereka dapat berkarya sekaligus mengenal salah satu warisan budaya Indonesia dengan cara yang sesuai dengan usia mereka,” kata Nuri wali kelas 1A yang merupakan salah satu tim jurnalis madrasah.
Semangat mengenal dan mencintai batik pun tumbuh melalui tangan-tangan kecil murid kelas 2B. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga bahwa melestarikan budaya dapat dimulai sejak dini melalui pembelajaran sederhana, kreatif, dan menyenangkan. (NF)
