Banjarnegara (Humas) – Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan bimbingan masyarakat, tiga orang Penyuluh Agama Islam Fungsional dari Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan mengikuti kegiatan pengembangan diri yang krusial. M. Syaiful Abidin, Sutrisno, dan Alfiana Nurhidayah secara resmi berpartisipasi dalam Short Course Trauma Healing yang diselenggarakan melalui skema Hybrid Class pada Rabu (21/1/2026).
Kegiatan ini dipusatkan di Ruang Penyuluh KUA Pagentan dengan memanfaatkan platform inovatif MOOC PINTAR milik Kementerian Agama RI. Pelatihan ini menjadi sangat relevan mengingat posisi penyuluh agama seringkali menjadi garda terdepan dalam mendampingi masyarakat yang tengah menghadapi krisis mental maupun spiritual.
Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Hena Rustiana, yang menjabat sebagai Ketua Kesehatan Mental Indonesia. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa penyuluh agama harus memiliki kepekaan psikologis saat berhadapan dengan korban trauma.
“Trauma healing bukan sekadar menghibur, melainkan proses mendampingi individu agar mampu memproses luka batinnya secara sehat. Penyuluh agama memiliki keunggulan karena dapat memadukan pendekatan spiritual dengan teknik psikologi dasar untuk memberikan ketenangan hakiki bagi penyintas,” ujar Hena Rustiana dalam sesi daring tersebut.
M. Syaiful Abidin, salah satu peserta, menyatakan bahwa materi yang didapatkan sangat aplikatif untuk diterapkan di wilayah kerja Pagentan. Ia merasa pengetahuan ini melengkapi metode dakwah konvensional yang selama ini dijalankan.
“Selama ini kami sering menemui jamaah yang mengalami masalah keluarga atau musibah yang membekas secara mental. Melalui pelatihan ini, kami dibekali cara mendengar yang aktif dan teknik stabilisasi emosi, sehingga pesan-pesan agama yang kami sampaikan dapat diterima dengan lebih sejuk dan menyembuhkan,” tutur Syaiful.
Kepala KUA Pagentan, Sidik Pramono, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif ketiga penyuluhnya dalam meningkatkan kompetensi secara mandiri melalui platform digital Kemenag. Menurutnya, adaptasi teknologi dan penguasaan ilmu lintas disiplin adalah keharusan bagi aparatur sipil negara saat ini.
“Saya sangat mendukung penuh keikutsertaan para penyuluh dalam kursus singkat ini. Tantangan di lapangan semakin kompleks; masyarakat tidak hanya butuh bimbingan ibadah, tapi juga dukungan mental. Saya berharap Mas Syaiful, Pak Sutrisno, dan Mbak Alfiana dapat mengimbaskan ilmu trauma healing ini kepada rekan sejawat dan masyarakat luas di Pagentan,” tegas Sidik Pramono.Pelatihan yang berlangsung di laman pintar.kemenag.go.id ini diharapkan menjadi langkah awal transformasi KUA Pagentan sebagai pusat layanan keagamaan yang juga responsif terhadap isu-isu kesehatan mental masyarakat. (msa/azd)
