Bukan Sekadar Lapar: Menggali Mutiara Taqwa di Awal Ramadan  Bersama ‘Aisyiyah

Banjarnegara (Humas) – Memasuki hari kelima bulan suci Ramadan  1447 H, atmosfer ibadah di Desa Kasmaran semakin syahdu. Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Purbasana menggelar pengajian spesial dengan menghadirkan Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan Alfiana Nurhidayah. Bertempat di Gedung Muhammadiyah Desa Kasmaran, Senin (23/2/2025), acara ini menjadi ajang refleksi bagi puluhan kader perempuan berkemajuan untuk memperdalam hakikat puasa.

Penyuluhan kali ini terasa istimewa karena dilakukan saat para jamaah sedang dalam kondisi berpuasa, sehingga materi yang disampaikan terasa lebih kontekstual dan menyentuh sanubari.

Dalam tausiyahnya, Alfiana mengajak para jamaah untuk melakukan evaluasi dini di lima hari pertama ini. Beliau memaparkan bahwa puasa adalah perjalanan menuju derajat Muttaqin (orang yang bertaqwa), yang tidak bisa dicapai hanya dengan menahan lapar dan dahaga.

“Jangan sampai kita termasuk golongan yang disebutkan Rasulullah saw, yakni orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar. Di hari kelima ini, mari kita tanya hati kita: Sudahkah lisan kita terjaga dari ghibah? Sudahkah mata kita terjaga dari yang sia-sia? Karena mutiara taqwa hanya bisa digali dengan kesungguhan menjaga adab,” tegas sang Penyuluh di hadapan puluhan ibu-ibu ‘Aisyiyah.

Beliau juga mengingatkan bahwa Ramadan  adalah waktu terbaik untuk memperkuat ketahanan keluarga melalui pendidikan agama yang dimulai dari ibu sebagai madrasah pertama.

Hadirnya Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pagentan, Ustadz Zaenal Afif, menambah kekhidmatan acara. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara ulama, umara (pemerintah melalui KUA), dan organisasi kemasyarakatan.

“Kehadiran Penyuluh di tengah-tengah warga ‘Aisyiyah Purbasana adalah bukti nyata bahwa pembinaan umat harus dilakukan secara kolaboratif. Saya berpesan kepada seluruh jamaah, jadikan ilmu dari penyuluh ini sebagai bahan bakar untuk tetap istiqomah hingga akhir Ramadan  nanti,” ujar Ustadz Muhammad Zaenudin.

Ketua Ranting ‘Aisyiyah Purbasana, Ibu Tursiyah, tampak haru melihat antusiasme anggotanya yang tetap semangat hadir meski matahari pagi mulai menyengat.

“Alhamdulillah, meski sedang puasa hari kelima, ibu-ibu tetap kompak. Kami ingin pengajian ini menjadi pengingat bahwa ibadah itu butuh ilmu. Dengan bimbingan Penyuluh, kami merasa lebih mantap menjalankan sisa hari di bulan Ramadan  ini dengan amalan yang lebih berkualitas,” tutur Ibu Tursiyah.

Diskusi mengalir hangat saat memasuki sesi tanya jawab. Pertanyaan-pertanyaan praktis seputar amalan di bulan Ramadan  dan problematika keseharian dijawab dengan lugas oleh penyuluh. Kegiatan ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh warga Desa Kasmaran diberikan kekuatan iman dan kesehatan untuk menyelesaikan Ramadan  dengan predikat hamba yang diampuni.

Melalui kegiatan ini, Penyuluh Pagentan kembali menegaskan perannya sebagai pelayan masyarakat yang tidak hanya mengurusi administrasi, tetapi juga menjadi obor pencerah bagi ruhani umat di tingkat pedesaan.

(an/azd)