Guru MTs N 2 Banjarnegara Jadi Pembicara Webinar Tingkat Nasional

Banjarnegara– Dalam rangka menyikapi generasi millenial di era digital yang serba disrupsi, DPR RI dari Fraksi PKB bekerja sama dengan Kementerian Kominfo, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) dan Praktisi digital, mengadakan seminar bertema “Generasi Milenial di Era Digital.”

Seminar yang diselenggaran pada Kamis (18/09) secara daring berlangsung lancar dengan pembicara dari Anggota Fraksi PKB DPR RI, Taufik R Abdullah, Plt Kabiro Humas Kemkominfo, Ferdinandus Setu, guru MTs Negeri 2 Banjarnegara sekaligus sebagai ketua RMI Banjarnegara, Nafis Atoillah dan praktisi digital Nindy Gita Sary.

Anggota DPR RI dari FPKB, Taufik R Abdullah dalam sambutannya memetakan generasi menjadi empat fase. Pertama Generasi Baby Boomers yaitu generasi yang lahir antara tahun 1946-1964. Kedua generasi X, generasi yang lahir dari tahun 1965-1980, Ketiga generasi Y lahir sekitar 1980-1995 dan generasi Z yang lahir antara 1997-200an. “Generasi Millenial masuk kategori generasi Y, yang mahir menggunakan media sosial dan sangat rentan terserang depresi serta gangguan kecemasan,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Kabiro Humas Komkominfo, Ferdinandus Setu menjelaskan tentang 9 perilaku Generasi millenial.

“Millenial Indonesia memiliki sembilan perilaku diantaranya kecanduan internet, mudah berpaling ke lain hati, dompet tipis, kerja cerdas dan cepat, bisa apa saja, liburan kapan saja, cuek dengan politik, tidak harus memiliki, kerja cerdas kerja keras dan suka berbagi,” ucapnya.

Nafis Atoillah menjelaskan ada lima tantangan guru di era digital, pertama peran guru telah bergeser sebagai fasilitator. Kedua globalisasi yang menyebabkan kompetisi tenaga kerja antarnegara. Ketiga kebutuhan akan generasi yang unggul dan moderat. Keempat besarnya jumlah penduduk usia muda yang menuntut pola pengajaran yang baru dan kelima perlu adanya reorientasi pemahaman sertifikasi.

Era digital memungkinkan adanya keterhubungan interpersonal dalam area yang tak terbatas tidak saja pada lingkungan madrasah, kota, provinsi, pulau, atau negara tetapi juga dapat melintasi belahan benua yang berbeda. Konektivitas memudahkan peserta didik mengakses informasi, pengetahuan, ataupun konten-konten apapun yang terpampang pada situs web.  “Sudah saatnya penyediaan konten-konten mendidik yang menjaga moralitas siswa madrasah dan metode pembelajaran yang menarik perlu dilakukan oleh guru,” katanya

Key Opinion leader, Nindy Gita Sary, mengingatkan agar jangan mudah mengunggah data pribadi, sebab di era digital seperti saat ini, data pribadi sangat rawan untuk disalahgunakan. “Data pribadi saat ini dalam posisi yang sangat rawan ketika disalahgunakan oleh para pelaku usaha atau operator tertentu dimana ia menyimpan datanya, untuk apa saja,” pungkasnya. (Wiwik/reff/ak)