Banjarnegara (Humas) — Menjelang hadirnya Bulan Suci Ramadan, Kantor Urusan Agama (KUA) Karangkobar hadir lebih dekat dengan masyarakat, menyapa bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga luka dan harapan yang tersimpan dalam perjalanan hidup keluarga. Ramadan dipandang sebagai momentum untuk berhenti sejenak, menata hati, dan memperbaiki relasi dalam rumah tangga. (10/2/2026)
Hal tersebut tercermin dalam kegiatan penyuluhan dan diskusi bersama Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) yang digelar di rumah Ibu Nasiem Duain Timbang, Desa Pagerpelah. Kegiatan ini dipandu oleh Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Karangkobar, Duwi Rohmah, dengan suasana dialog yang hangat, terbuka, dan penuh empati.
Dalam pengantarnya, Duwi menyampaikan bahwa tugas KUA tidak sebatas urusan administratif, tetapi juga hadir menemani masyarakat dalam menghadapi persoalan keluarga yang nyata dan beragam.
“KUA hadir untuk mendengar, membimbing, dan menguatkan. Setiap keluarga memiliki cerita, dan Ramadan adalah waktu terbaik untuk menata kembali kehidupan agar lebih tenang dan bermakna,” ujarnya.
Sesi diskusi berjalan hidup. Salah satu peserta lanjut usia berbagi kisah tentang perceraiannya dengan suami meski telah memiliki anak dan cucu. Kendati berpisah, hubungan kekeluargaan tetap dijaga dengan baik demi anak dan cucu, sehingga kasih sayang dalam keluarga besar tetap terpelihara.
Menanggapi hal tersebut, Duwi menjelaskan tentang masa idah cerai hidup, menekankan bahwa ketentuan idah bukan sekadar aturan fikih, melainkan bentuk perlindungan bagi perempuan serta penataan kehidupan keluarga pascaperceraian. Ia juga mengapresiasi upaya menjaga keharmonisan keluarga besar selama tetap berada dalam koridor syariat.
Diskusi semakin menyentuh ketika seorang ibu muda mengisahkan pengalaman pahit pernikahan pertamanya yang harus berakhir karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kisah tersebut menjadi refleksi bersama tentang pentingnya keselamatan, martabat, dan keadilan dalam membangun keluarga.
“Keluarga sakinah tidak mungkin tumbuh di atas kekerasan. Islam menjunjung tinggi perlindungan jiwa dan kehormatan,” tegas Duwi, sembari mengingatkan bahwa KUA membuka ruang konsultasi dan pendampingan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Melalui kegiatan ini, KUA Karangkobar berharap Ramadan menjadi momentum penyembuhan luka, penguatan iman, dan penumbuhan harapan baru, agar setiap keluarga mampu melangkah menuju kehidupan yang lebih sakinah, penuh kasih, dan diridhai Allah.
(dr/azd)
