Keteladanan di Tengah Keterbatasan: Rifda Tetap Hadir Mengaji Meski Sendirian di Kelas Madin

Banjarnegara (Humas) — Semangat menuntut ilmu agama yang ditunjukkan oleh Rifda Haura zakiya, siswi kelas 3 Madrasah Diniyah (Madin) Takmiliyah Muhammadiyah Karanganyar, menjadi potret keteladanan yang menginspirasi. Pada Selasa (27/1/2025), Rifda tetap hadir mengikuti kegiatan belajar mengajar di madin meskipun hampir seluruh teman sekelasnya tidak masuk.

Ketidakhadiran mayoritas siswa tersebut disebabkan adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah formal pada pagi hari. Kondisi itu membuat suasana kelas tampak lengang. Namun, keadaan tersebut sama sekali tidak menyurutkan niat Rifda untuk tetap datang dan mengikuti pelajaran. Ia hadir dengan penuh semangat, bahkan hanya ditemani oleh adiknya Fahima Sajida yang berusia 4 tahun.

Keteladanan Rifda mendapat perhatian langsung dari Heri Sutikno, Penyuluh Agama Islam KUA Purwanegara, yang pada kesempatan tersebut turut memberikan motivasi dan apresiasi secara langsung kepada Rifda.

“Rifda, jangan pernah berkecil hati meskipun kamu belajar sendirian hari ini. Justru Allah melihat kesungguhan hatimu. Orang yang tetap datang menuntut ilmu saat yang lain tidak hadir, itu tandanya dia punya niat yang kuat,” tutur Heri Sutikno memberikan motivasi.

Ia juga menyampaikan bahwa keistiqomahan dalam menuntut ilmu adalah kunci keberkahan, bukan banyaknya teman atau ramainya suasana kelas.

“Ilmu itu tidak tergantung ramai atau sepi. Ilmu itu tergantung niat dan kesungguhan. Teruslah belajar, teruslah mengaji. InsyaAllah, langkah kecilmu hari ini akan menjadi cahaya besar di masa depan,” lanjutnya.

Menurut Heri Sutikno, pendidikan agama memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter, akhlak, dan kepribadian anak sejak usia dini. Oleh karena itu, konsistensi mengikuti pembelajaran di madrasah diniyah perlu terus ditanamkan, meskipun di tengah padatnya aktivitas sekolah formal.

Subagyo, pengurus Madin Takmiliyah Muhammadiyah Karanganyar juga menyampaikan apresiasi atas sikap Rifda yang menunjukkan tanggung jawab dan kedisiplinan tinggi. Sikap tersebut diharapkan dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi siswa lainnya agar tetap semangat mengikuti pembelajaran madin, tanpa mudah terpengaruh oleh kondisi atau situasi.

Kisah Rifda menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Dengan niat yang lurus, keikhlasan, dan semangat yang kuat, proses menuntut ilmu akan tetap bernilai, bahkan ketika dijalani dalam kesunyian.

Semangat Rifda diharapkan mampu menumbuhkan motivasi bagi generasi muda untuk terus istiqomah dalam menuntut ilmu agama, sebagai bekal membangun akhlak dan masa depan yang lebih baik.

(HS/azd)