Banjarnegar – Semangat Ramadhan mulai terasa di kelas-kelas MIFABARA. Nani, guru MIFABARA, menghadirkan tantangan istimewa bertajuk Literasi Ramadhan sebagai ruang belajar yang mengasah nalar sekaligus menumbuhkan kepekaan hati. Setiap siswa mendapatkan topik berbeda untuk dikembangkan menjadi tulisan sederhana, baik berupa konten materi reflektif maupun cerita penuh makna.(18/2)
Hari pertama Literasi Ramadhan dibuka oleh Ananda Agasya dengan tema yang menggugah, “Raihlah Piala Takwa di Garis Finish Ramadhan. Mulai dengan Bismillah, Jalani dengan Alhamdulillah, Akhiri dengan Kemenangan.” Dalam tulisannya, Agasya mengibaratkan Ramadhan sebagai sebuah perlombaan suci. Garis start dimulai dengan niat yang lurus, setiap langkah diisi amal kebaikan, dan garis akhir adalah kemenangan yang diraih dengan hati yang bersih.
Dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, Agasya menuliskan bahwa piala takwa bukanlah trofi yang terlihat, melainkan cahaya dalam dada yang tumbuh dari sabar, syukur, dan istiqamah. Ia mengajak teman-temannya untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, dan perbuatan.
Nani menyampaikan bahwa program ini bertujuan membiasakan anak berpikir reflektif sejak dini. “Kami ingin Ramadhan tidak hanya berlalu sebagai rutinitas, tetapi meninggalkan jejak kesadaran dalam diri anak-anak. Melalui literasi, mereka belajar merangkai kata sekaligus merangkai makna,” tuturnya.
Kepala Madrasah turut memberikan apresiasi atas inisiatif tersebut. “Literasi Ramadhan adalah ikhtiar mendidik hati. Ketika anak mampu menuliskan makna ibadahnya, berarti ia sedang belajar memahami hidupnya. Inilah pendidikan yang menyentuh akal dan ruh sekaligus,” ungkap beliau.
Dukungan juga datang dari orang tua Agasya. “Kami terharu membaca tulisannya. Semoga kegiatan ini membuat anak-anak lebih mencintai Ramadhan dan mengisi hari-harinya dengan kebaikan,” ujarnya.
Literasi Ramadhan MIFABARA bukan sekadar tugas, melainkan perjalanan sunyi menuju kedewasaan jiwa. Dari satu tulisan ke tulisan berikutnya, anak-anak belajar bahwa kemenangan sejati bukan hanya dirayakan di hari raya, tetapi dirasakan dalam hati yang semakin dekat kepada-Nya.(nas)
