Perkuat Agama Inklusif, Penyuluh Kecamatan Bawang Ikuti Sosialisasi Kurikulum Berbasis HAM dan GEDSI

Banjarnegara (Humas) Dalam upaya memperkuat peran penyuluh agama sebagai perekat sosial dan pelindung hak-hak asasi seluruh lapisan masyarakat, Mohammad Fajri Mubarok, Penyuluh Agama Islam dari Kecamatan Bawang, resmi mengikuti kegiatan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Hak Asasi Manusia (HAM), Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), serta Prinsip Inklusi. (15/10/2020)

Kegiatan yang berlangsung intensif ini bertujuan untuk membekali para pendamping masyarakat dan penyuluh agama dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya kesetaraan gender, perlindungan kelompok rentan, serta penghormatan terhadap keberagaman. Melalui pemahaman kurikulum ini, para peserta diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap aktivitas dakwah dan penyuluhan di wilayah tugas masing-masing.

Mohammad Fajri Mubarok menyampaikan bahwa materi yang didapatkan selama sosialisasi sangat relevan dengan dinamika sosial masyarakat saat ini. Menurutnya, pesan-pesan keagamaan yang disampaikan kepada masyarakat hendaknya tidak hanya menyentuh aspek ritual semata, tetapi juga mampu menjawab isu-isu kemanusiaan seperti penghapusan diskriminasi dan perlindungan terhadap penyandang disabilitas.

“Dakwah yang ramah dan inklusif adalah kunci untuk merangkul semua kelompok masyarakat tanpa terkecuali. Melalui integrasi perspektif HAM dan GEDSI, kita ingin memastikan bahwa bimbingan keagamaan dapat dirasakan manfaatnya oleh perempuan, anak-anak, lansia, hingga saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” ungkap Fajri di sela-sela kegiatan.

Kurikulum baru ini juga menyoroti pentingnya peran penyuluh agama dalam memetakan potensi kerentanan sosial di tingkat desa. Dengan pemahaman yang memadai mengenai GEDSI, para penyuluh diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat rentan dengan berbagai pihak yang berkepentingan demi terciptanya lingkungan yang aman dan adil.

Selain menerima penyampaian materi dari para narasumber dan pakar di bidang HAM serta inklusi sosial, para peserta juga diajak untuk berpartisipasi aktif dalam sesi diskusi kelompok dan simulasi studi kasus. Metode ini dirancang agar penyuluh dapat menyusun strategi dakwah yang adaptable dan relevan dengan kondisi lapangan yang beragam.

Langkah Mohammad Fajri Mubarok dalam mengikuti sosialisasi ini mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak, karena dipandang sebagai bentuk komitmen nyata dalam meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan di Kecamatan Bawang. Diharapkan hasil dari sosialisasi ini dapat segera diimplementasikan melalui program-program edukasi dan pendampingan masyarakat secara berkelanjutan.

Melalui penerapan nilai-nilai Kurikulum Berbasis HAM dan GEDSI ini, Kementerian Agama bersama para penyuluh terus berupaya mewujudkan masyarakat yang lebih ramah, toleran, serta menjunjung tinggi kesetaraan. Komitmen ini sekaligus mempertegas bahwa dakwah Islam hadir sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) yang mengayomi seluruh elemen masyarakat. 

(Mfm/azd)