Teguhkan Iman dan Sehatkan Jiwa melalui Al-Qur’an, Penyuluh KUA Wanadadi Bina Jamaah Al Hidayah Kasilib

Banjarnegara (Humas) – Upaya penguatan spiritual masyarakat terus digiatkan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Wanadadi melalui kegiatan pembinaan rutin di Majelis Taklim Al Hidayah Desa Kasilib. Pada Selasa (24/2/2026), jamaah mendapatkan siraman rohani bertema “Teguhkan Iman dan Sehatkan Jiwa melalui Al-Qur’an” yang disampaikan oleh Namyroh Ndaruwati.

Dalam materinya, Namyroh Ndaruwati menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca, melainkan pedoman hidup sekaligus syifa’ (penyembuh) bagi hati yang gelisah. Ia mengutip QS. Al-Isra’ ayat 82 yang menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman.

“Di tengah berbagai persoalan kehidupan, Al-Qur’an adalah sumber ketenangan. Ketika kita membacanya dengan iman dan mengamalkannya, maka hati akan terasa lebih lapang dan jiwa menjadi kuat,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Menariknya, dalam sesi diskusi juga disampaikan kajian mengenai pengaruh bacaan Al-Qur’an terhadap air sebagai media perantara kesembuhan. Beberapa penelitian populer, seperti yang pernah diperkenalkan oleh peneliti asal Jepang, Masaru Emoto, menunjukkan bahwa struktur kristal air dapat berubah ketika diberikan kata-kata positif atau doa. Meskipun penelitian tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan ilmiah, fenomena ini sering dijadikan ilustrasi bahwa air sebagai unsur dominan dalam tubuh manusia dapat merespons vibrasi suara dan doa.

Dalam perspektif Islam, praktik membacakan ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam air sebagai bagian dari ruqyah syar’iyyah telah lama dikenal di tengah masyarakat. Para ulama menjelaskan bahwa yang memberikan kesembuhan hakikatnya adalah Allah Swt, sedangkan air dan bacaan ayat suci hanyalah ikhtiar dan perantara.

“Jika kita membacakan Al-Qur’an dengan penuh keyakinan lalu meminumnya sambil berdoa, maka itu bagian dari tawakal dan ikhtiar spiritual. Namun kita tetap harus seimbang dengan usaha medis dan menjaga kesehatan,” jelas Namyroh.

Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan untuk diuji secara sembarangan, tetapi untuk diimani dan diamalkan. Kesembuhan sejati lahir dari perpaduan antara keimanan, doa, ikhtiar, serta pola hidup yang baik.

Suasana majelis berlangsung khidmat dan penuh antusias. Jamaah tampak menyimak dengan seksama, bahkan beberapa berbagi pengalaman tentang ketenangan dan kemudahan yang dirasakan setelah rutin membaca Al-Qur’an serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, diharapkan jamaah semakin memahami bahwa Al-Qur’an adalah sumber kekuatan iman sekaligus penyejuk jiwa. Penyuluh Agama KUA Wanadadi berkomitmen untuk terus menghadirkan pembinaan yang mencerahkan, membumi, dan meneguhkan spiritualitas umat.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan Kementerian Agama dalam membangun masyarakat yang religius, sehat lahir batin, serta berakhlakul karimah melalui penguatan literasi dan pengamalan Al-Qur’an. 

(NN/azd)