Banjarnegara (Humas) – Kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan oleh para siswa MTs Negeri 1 Banjarnegara yang tergabung dalam ekstrakurikuler sinematografi melalui kegiatan pembuatan film pendek tanpa dialog berdurasi tiga menit. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (7/8) di lingkungan madrasah dengan mengangkat tema lingkungan, yang merupakan bagian dari proyek edukatif sekaligus kampanye visual ramah anak.
Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok, di mana para siswa menjadi sutradara, penulis ide cerita, kameramen, hingga pemeran dalam film mereka masing-masing. Meski tanpa dialog, film-film pendek ini mampu menyampaikan pesan yang kuat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekitar, termasuk bahaya sampah plastik, krisis air bersih, dan pentingnya penghijauan.
Pembimbing ekstrakurikuler sinematografi, Fitriyanto, menyampaikan apresiasinya atas semangat dan kerja sama tim dari para siswa. Ia menjelaskan bahwa pembuatan film pendek ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran praktik yang menggabungkan unsur seni, teknologi, dan nilai-nilai sosial.
“Lewat karya film ini, anak-anak diajak menyampaikan pesan penting kepada masyarakat, khususnya teman sebaya, tanpa harus menggunakan kata-kata. Mereka belajar bahwa visual dan ekspresi bisa menjadi alat komunikasi yang sangat kuat. Dan yang lebih penting, mereka belajar bekerja dalam tim, berpikir kritis, dan peduli terhadap isu lingkungan,” ujar Fitriyanto.
Selain itu, guru Bimbingan Konseling sekaligus pegiat sinematografi di madrasah, Ardian Apriliana, mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pengembangan karakter siswa. Menurutnya, melalui media film, siswa bisa mengekspresikan empati dan kepedulian terhadap sekitar dengan cara yang kreatif dan positif.
“Kami percaya bahwa sinematografi adalah media yang efektif untuk membentuk karakter siswa. Tema lingkungan ini dipilih agar mereka tidak hanya menjadi pelaku kreatif, tetapi juga agen perubahan. Banyak dari mereka yang mulai sadar betapa pentingnya menjaga lingkungan, dan itu terlihat dari konsep cerita yang mereka buat sendiri,” jelas Ardian.
Salah satu siswa peserta ekstrakurikuler, Prima, merasa sangat antusias dan bangga bisa terlibat dalam proses produksi film ini. Ia mengaku bahwa meskipun awalnya merasa sulit karena tidak ada dialog, namun justru tantangan tersebut membuatnya lebih semangat.
“Kami harus benar-benar memikirkan gerakan, ekspresi wajah, dan alur cerita yang bisa dimengerti tanpa bicara. Tapi seru banget! Saya jadi tahu gimana rasanya jadi sutradara dan pemain sekaligus,” ujar Prima sambil tersenyum.
Sementara itu, Fio, siswa lainnya yang bertugas sebagai penulis ide cerita dan pengarah adegan, merasa kegiatan ini membuka wawasannya terhadap dunia perfilman.
“Saya senang bisa menuangkan ide tentang lingkungan yang bersih dan hijau dalam bentuk film. Harapannya, teman-teman yang menonton nanti bisa lebih sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mulai menanam pohon di rumah,” ungkap Fio.
Film-film pendek hasil karya siswa ini rencananya akan ditayangkan secara internal dan didistribusikan melalui media sosial resmi madrasah. Hal ini bertujuan untuk memberikan ruang apresiasi terhadap karya siswa serta menyebarkan pesan positif kepada masyarakat luas.
Wakil kepalaurusan kesiswaan Ikhsanudin menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menyatakan bahwa madrasah mendukung penuh pengembangan minat dan bakat siswa, terlebih yang selaras dengan pendidikan karakter dan kepedulian sosial.
Kegiatan ini membuktikan bahwa sinematografi bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan juga sarana pendidikan yang efektif, menyenangkan, dan berdampak luas. Melalui lensa kamera dan ide kreatif, para siswa MTs Negeri 1 Banjarnegara telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi penyampai pesan lingkungan yang inspiratif. (Lin/La)







