Banjarnegara (Humas) – MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menghadirkan podcast unggulannya, Madtsansa Ada Apa, dalam edisi spesial kemerdekaan yang tayang pada Senin (18/8). Podcast yang dipandu host Linara ini mengusung tema “Kemerdekaan Harus Disyukuri, Generasi Hebat Madtsansa Terus Berjuang Raih Prestasi”. Edisi ini terasa istimewa karena menghadirkan dua sosok inspiratif: Hj. Umi Mahmudah, guru pembimbing tilawah di Madtsansa, serta Dinar Agil Muhammad, siswa kelas 7C Unggulan Tahfidz yang baru saja menorehkan prestasi sebagai Juara 2 Lomba MTQ Pelajar tingkat Kabupaten Banjarnegara.
Sejak awal, suasana penuh semangat kemerdekaan terasa kental. Linara membuka percakapan dengan pantun dan narasi kebangsaan, mengingatkan bahwa generasi muda tidak hanya mewarisi kemerdekaan, tetapi juga dituntut untuk mengisinya dengan karya dan prestasi.
“Hari ini spesial banget, kita ngobrol di momen peringatan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Tugas kita sebagai generasi sekarang adalah mengisi kemerdekaan itu dengan hal-hal positif, termasuk prestasi,” ucap Linara.
Dalam sesi pertama, Dinar menceritakan pengalamannya menembus ajang MTQ.
“Awalnya saya agak ragu ikut seleksi internal karena baru kelas 7 dan masih adaptasi. Tapi guru-guru memberi semangat, akhirnya saya memberanikan diri. Setelah itu mulai latihan intensif bersama Bu Umi, hampir setiap hari, baik di sekolah maupun di pondok,” tutur Dinar.
Menurutnya, proses latihan tidak sekadar membaca Al-Qur’an, tetapi juga belajar teknik vokal, irama, hingga mengatur pernapasan. Meski sempat lelah karena harus membagi waktu antara sekolah, pondok, dan latihan, semangat selalu kembali ketika mengingat doa orang tua dan tujuan meraih prestasi.
Hj. Umi Mahmudah yang mendampingi Dinar sejak awal, mengakui bahwa muridnya tersebut memiliki potensi istimewa. “Sejak pertama kali berlatih, saya sudah melihat ada kualitas yang berbeda. Suaranya khas dan stabil, tajwidnya bagus. Tapi yang paling penting, ia rendah hati dan mau belajar. Kalau dikoreksi, langsung diperbaiki tanpa mengeluh. Sikap itu jarang dimiliki anak seusianya,” jelasnya.
Memasuki sesi refleksi, Dinar menyampaikan pandangannya tentang kemerdekaan.
“Bagi saya, kemerdekaan itu seperti pintu besar yang dibuka para pahlawan dengan darah dan air mata. Saya sebagai generasi muda punya tanggung jawab untuk mengisinya. Kalau saya malas belajar atau tidak berprestasi, rasanya seperti menutup kembali pintu itu,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa bisa belajar agama dan mengikuti lomba tilawah di masa sekarang adalah bentuk nikmat kemerdekaan.
“Kalau lahir di zaman penjajahan, mungkin saya tidak bisa dengan bebas belajar di sekolah atau pondok. Maka setiap prestasi yang saya raih, saya niatkan sebagai hadiah kecil untuk kemerdekaan ini,” tambahnya.
Hj. Umi Mahmudah menegaskan bahwa semangat kemerdekaan tidak boleh hanya berhenti pada upacara seremonial.
“Kalau dulu pahlawan melawan penjajah, sekarang generasi muda harus melawan rasa malas, godaan teknologi yang negatif, dan kebiasaan buruk. Setiap prestasi siswa, termasuk yang diraih Dinar, adalah bentuk perjuangan kemerdekaan versi zaman ini,” tegasnya.
Selain berbagi pengalaman, podcast ini juga menyuguhkan tips praktis. Dinar menekankan pentingnya disiplin dalam menjaga hafalan Al-Qur’an.
“Jangan menunggu waktu luang, tapi luangkan waktu. Saya biasanya murojaah setiap habis Subuh dan Magrib. Yang utama bukan banyaknya hafalan, tapi kualitasnya tetap terjaga,” ungkapnya.
Sementara itu, Hj. Umi Mahmudah menekankan tiga hal utama bagi calon peserta MTQ.
“Pertama, niat harus lurus karena Allah. Kedua, teknik harus terus dilatih, mulai dari pernapasan, irama, hingga tajwid. Dan ketiga, mental harus kuat. Bayangkan membaca di hadapan Allah, bukan hanya di depan juri,” pesannya.
Menjelang akhir podcast, Linara mengajak narasumber berbagi momen berkesan. Dinar mengenang saat latihan yang penuh tawa ketika salah melantunkan irama hingga terdengar seperti lagu dangdut. Sementara itu, Bu Umi membagikan momen haru ketika Dinar mencium tangannya seusai lomba dan mengucapkan terima kasih atas bimbingannya.
“Bagi saya, saat itu Dinar sudah menjadi juara, terlepas dari hasil perlombaan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Menutup perbincangan, Linara menegaskan kembali pesan penting edisi kali ini.
“Dari Dinar dan Bu Umi kita belajar bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang harus diisi dengan kerja keras, disiplin, dan prestasi. Inilah cara generasi Madtsansa berjuang mengisi kemerdekaan.”
Podcast Madtsansa Ada Apa Reborn edisi spesial kemerdekaan ini tidak hanya menghadirkan kisah inspiratif, tetapi juga memberikan motivasi bagi Sobat Madtsansa untuk terus berjuang, berkarya, dan menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah tantangan zaman. (Fy/La)
