Banjarnegara (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mandiraja kembali menghadirkan inovasi dalam dakwah yang tak hanya berfokus pada penguatan spiritual, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui kolaborasi dengan Majelis Taklim Nurul Huda Desa Banjengan, mereka menggagas program bertema “Ekonomi Berbasis Jamaah”, sebuah gerakan kreatif yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan semangat kemandirian ekonomi. (20/10)
Program ini lahir dari kesadaran bahwa dakwah perlu relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Tidak hanya menumbuhkan keimanan, tetapi juga memberdayakan umat agar berdaya secara finansial.
“Ngaji tetap berjalan, tapi umat juga perlu diberi bekal ekonomi. Dakwah harus menyentuh kebutuhan nyata agar jamaah tidak hanya kuat iman, tapi juga kuat finansial,” ujar Hendriyanto, salah satu Penyuluh Agama Islam yang menginisiasi kegiatan ini.
Majelis Taklim Nurul Huda sendiri dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Para jamaahnya, yang sebagian besar ibu rumah tangga, juga mulai mengembangkan usaha rumahan seperti jajanan tradisional, produk herbal, dan kerajinan tangan.
Melihat potensi besar tersebut, para penyuluh kemudian menggagas program pemberdayaan ekonomi berbasis syariah yang akan mulai dijalankan pada akhir tahun ini. Program ini akan menjadi wadah pelatihan dan pendampingan bagi jamaah majelis taklim agar dapat mengembangkan usaha secara mandiri dan beretika islami.
Ketua Majelis Taklim Nurul Huda, H. Yahya, menyambut inisiatif ini dengan antusias.
“Sudah saatnya majelis taklim tidak hanya menjadi tempat mengaji, tetapi juga tempat belajar usaha dan saling menguatkan ekonomi. Kami siap mendukung penuh langkah ini,” ungkapnya.
Melalui sinergi antara penyuluh agama dan majelis taklim, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model dakwah yang inspiratif dan aplikatif — menggabungkan kekuatan spiritual dengan kemandirian ekonomi umat.
Dengan semangat “Ngaji Jalan Terus, Ekonomi Pun Tumbuh”, program Ekonomi Berbasis Jamaah di Mandiraja diharapkan menjadi langkah nyata menuju masyarakat yang religius, produktif, dan berdaya saing, tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
(Azd)







