Tak Cukup Bilqoul! Penyuluh Agama Banjarnegara Perkuat Dakwah Bilhal dan Bilmal, Wujudkan Kemenag Berdampak 

Banjarnegara (Humas) — Penyuluh Agama Islam bukan sekadar menyampaikan pesan keagamaan melalui lisan. Di tengah kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, penyuluh dituntut hadir dengan aksi nyata, menghadirkan kemanfaatan, dan memastikan program Kementerian Agama benar-benar dirasakan masyarakat.

Semangat tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam (Pokjaluh) Kabupaten Banjarnegara yang diikuti seluruh Penyuluh Agama Islam dari 20 kecamatan se-Kabupaten Banjarnegara, Rabu (7/10/2026). Kegiatan berlangsung di Wisata Seakong, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara.

Rakor diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Yulfiani, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Kalibening, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Penyuluh Agama Islam.

Kepala KUA Kecamatan Wanadadi, H. Ghazali Bawono, dalam sambutannya menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta rakor sekaligus memberikan apresiasi terhadap berbagai program sosial yang dilakukan penyuluh.

“Selamat datang di Wanadadi. Kami sangat mengapresiasi program penyuluh, khususnya bantuan air bersih. Masyarakat sangat membutuhkan dan mereka sangat terbantu,” ungkapnya.

Ketua Pokjaluh Kabupaten Banjarnegara, Sofi Toif, menegaskan bahwa kiprah penyuluh tidak boleh berhenti pada dakwah bilqoul atau dakwah melalui perkataan. Penyuluh juga harus mampu menghadirkan dakwah melalui tindakan dan kepedulian nyata.

“Penyuluh memang tidak hanya dakwah bilqoul, tetapi juga bilhal dan bilmal. Baksos air bersih, baksos kurban dan berbagai kegiatan sosial lainnya adalah bentuk kehadiran penyuluh di tengah masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara, H. Karyono, menyebut penyuluh sebagai salah satu corong Kementerian Agama dalam menyampaikan ilmu dan pesan keagamaan kepada masyarakat.

“Penyuluh adalah corong Kementerian Agama. Tugasnya memberikan ilmu kepada masyarakat. Cara yang paling mudah untuk memberikan ilmu adalah melalui penyuluh. Karena itu, ilmu penyuluh juga harus terus berkembang,” tegasnya.

Senada, Kepala Seksi Bimas Islam Kankemenag Banjarnegara, H. Slamet Wahyudi, memberikan apresiasi terhadap gerakan penyuluh yang tidak hanya mengedepankan dakwah bilqoul, tetapi juga bilhal dan bilmal.

Dalam rakor tersebut juga dibahas berbagai agenda strategis, termasuk assessment Kepala KUA serta penguatan peran penyuluh sebagai fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin). Dari sejumlah penyuluh yang mendaftar sebagai fasilitator, tercatat tiga orang mengikuti proses assessment.

Di tengah padatnya tugas penyuluh agama, seluruh kegiatan juga ditekankan agar terdokumentasi dengan baik. Dokumentasi bukan sekadar administrasi, tetapi menjadi bagian penting untuk menunjukkan bahwa program Kementerian Agama benar-benar bergerak dan memberikan dampak.

“Pekerjaan penyuluh banyak. Maka setiap kegiatan perlu didokumentasikan dengan baik. Mari kita bersama-sama menguatkan program Kemenag Berdampak,” pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Rakor Pokjaluh menjadi ruang untuk menyamakan langkah, memperkuat koordinasi, sekaligus meneguhkan kembali komitmen penyuluh agama sebagai garda terdepan pelayanan keagamaan di masyarakat.

Dari 20 kecamatan, satu semangat terus digaungkan: Penyuluh Agama Islam Bergerak, Kementerian Agama Berdampak. Bukan hanya hadir untuk berbicara, tetapi hadir untuk bekerja, melayani dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

(dr/azd)