Supervisi Pembelajaran, Dorong Kualitas Mengajar dan Kreativitas Siswa dalam Menulis Cerita Fantasi

Banjarnegara (Humas) – Upaya peningkatan mutu pembelajaran di MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali diperkuat melalui kegiatan supervisi yang dilaksanakan oleh salah satu tim penilai Pengembang Keprofesian Berkelanjutan (PKB), Linara, pada Kamis (13/11). Kegiatan ini dilakukan di kelas 7I dengan menyupervisi proses pembelajaran yang dipimpin oleh Risky Arbangi Nopi, guru Bahasa Indonesia yang pada kesempatan tersebut mengajar materi menulis cerita fantasi.

Sejak awal pembelajaran dimulai, suasana kelas tampak hidup. Risky memulai kegiatan dengan pemantik berupa tayangan visual bertema dunia imajinatif yang berhasil menarik perhatian seluruh siswa. Ice breaking singkat yang diberikan membuat kelas lebih rileks sebelum masuk ke inti materi.

Dalam kegiatan inti, Risky memandu siswa memahami unsur-unsur cerita fantasi, mulai dari penokohan, latar, konflik, hingga penggunaan unsur magis. Ia kemudian memberi tugas kepada siswa untuk membuat mind mapping sebagai rancangan awal cerita yang akan mereka tulis.

Linara, yang hadir sejak awal hingga akhir pembelajaran, mengamati alur mengajar, interaksi, dan strategi pembelajaran yang digunakan. Menurutnya, kegiatan supervisi bukan sekadar penilaian, tetapi bentuk pendampingan profesional untuk memastikan pembelajaran di kelas berjalan optimal, kreatif, dan berpusat pada siswa.

“Supervisi ini kami laksanakan sebagai bagian dari komitmen PKB untuk mendukung guru dalam mengembangkan praktik mengajar mereka. Hari ini saya melihat bagaimana Bu Risky mampu mengelola kelas dengan baik dan mendorong siswa untuk mengembangkan imajinasi melalui kegiatan menulis. Pendekatan yang digunakan sudah tepat dan memberikan ruang bagi siswa untuk berekspresi,” ujar Linara.

Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan supervisi ini. Ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru merupakan pondasi penting dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas.

“Kami sangat mendukung kegiatan supervisi seperti ini. Guru adalah garda terdepan dalam proses pendidikan, sehingga pendampingan dan evaluasi secara berkala menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Saya berharap melalui supervisi ini, kualitas pembelajaran semakin meningkat dan siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik, khususnya dalam hal literasi,” ungkap H. Yatiman.

Sementara itu, Risky Arbangi Nopi mengaku sangat terbantu dengan adanya supervisi tersebut. Baginya, masukan yang diberikan menjadi motivasi untuk terus memperbaiki dan memperkaya strategi pembelajaran.

“Supervisi ini sangat bermanfaat bagi saya. Selain menjadi ajang refleksi, saya mendapatkan banyak saran konstruktif dari Bu Linara, terutama mengenai penguatan aktivitas student-centered. Saya merasa lebih terdorong untuk menciptakan pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih kreatif, terutama pada materi menulis cerita fantasi yang memang membutuhkan daya imajinasi tinggi,” kata Risky.

Di sisi lain, kegiatan pembelajaran juga meninggalkan kesan positif bagi siswa. Raisa, salah satu siswa kelas 7I, mengaku sangat menikmati proses belajar pada hari itu.

“Belajar menulis cerita fantasi itu seru banget. Bu Risky menjelaskan dengan jelas dan memberi contoh-contoh yang menarik. Saya jadi semangat membuat cerita tentang dunia sihir yang sudah saya bayangkan sejak lama. Tadi kami juga boleh berdiskusi dengan teman-teman, jadi lebih mudah menyusun ide,” ungkap Raisa dengan antusias.

Kegiatan supervisi pada hari itu ditutup dengan sesi diskusi antara Linara dan Risky di ruang guru. Linara memberikan umpan balik mengenai kekuatan dan area yang masih bisa dikembangkan, terutama dalam memberikan pengayaan bagi siswa yang sudah mampu menulis lebih cepat dan efektif.

Dengan terselenggaranya supervisi pembelajaran tersebut, MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menegaskan komitmennya dalam mengawal kualitas pendidikan melalui pendampingan yang terstruktur dan kolaboratif. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang refleksi bagi guru, tetapi juga membawa pengalaman belajar yang lebih hidup dan bermakna bagi para siswa. (Fy/La)

Skip to content