Siswa Kelas 6A MIFABARA Praktikkan Keutamaan Memberi dalam Kontekstual Learning Al-Qur’an Hadist

Banjarnegara – Suasana belajar di kelas 6A MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA) pada hari Selasa menjadi berbeda dan inspiratif. Guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadist, Mahmudah, menerapkan metode Kontekstual Learning untuk mendalami materi Keutamaan Hadis Memberi (Sedekah). Metode ini dirancang untuk menghubungkan teori agama dengan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari, membuat pembelajaran lebih bermakna dan berkesan bagi para siswa.(18/11)

Pembelajaran diawali dengan sesi diskusi mendalam. Mahmudah mengajak siswa menganalisis hadits tentang keutamaan memberi, yang memiliki arti “Tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (menerima).” Diskusi tidak hanya berfokus pada teks, tetapi juga menganalisis bagaimana hadist tersebut diimplementasikan dalam konteks masyarakat Indonesia, seperti gotong royong, donasi bencana, dan membantu sesama di lingkungan madrasah.

“Dengan berdiskusi, mereka tidak hanya hafal hadis, tetapi juga memahami alasan dan dampak spiritual serta sosial dari amalan memberi,” ujar Mahmudah.

Puncak dari Kontekstual Learning ini adalah sesi praktik langsung. Mahmudah meminta setiap siswa untuk memikirkan bentuk “memberi” yang sederhana namun bermakna. Salah satu siswa, Asya, dengan antusias membagikan bekal makanan miliknya kepada temannya yang tidak membawa. Ia juga berinisiatif membantu temannya membersihkan papan tulis dan merapikan buku-buku di rak kelas, sebagai bentuk “memberi” tenaga dan waktu.

“Saya jadi tahu, memberi itu tidak hanya uang atau barang mahal. Berbagi makanan, senyum, atau membantu teman juga termasuk memberi. Rasanya senang sekali bisa membuat orang lain gembira,” kata Asya dengan wajah berseri.

Kepala Madrasah MIFABARA mengapresiasi inovasi yang dilakukan Mahmudah. “Pelajaran Al-Qur’an Hadis tidak boleh hanya menjadi pelajaran tekstual. Dengan Kontekstual Learning, nilai-nilai empati, kedermawanan, dan akhlak mulia langsung tertanam dalam hati dan diwujudkan melalui perilaku siswa. Inilah esensi dari pendidikan agama,” tutur Durotun Nafisah.

Melalui kegiatan ini, siswa kelas 6A tidak hanya menyelesaikan materi pelajaran, tetapi juga mendapatkan bekal penting untuk menjadi pribadi yang dermawan dan peduli, sesuai dengan ajaran luhur agama. (mc/nas)

Skip to content