Banjarnegara (Humas) – Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks di tahun 2026, ketahanan mental menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan keluarga. Menyadari hal tersebut, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pagentan hadir di tengah masyarakat Dusun Bulu, Desa Pagentan, untuk memberikan penguatan spiritual melalui kajian mendalam bertema “Amul Huzni” atau Tahun Kesedihan.
Bertempat di kediaman Siti Khotimah pada Rabu (21/1/2026), puluhan anggota Majelis Taklim Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) Ranting Bulu berkumpul dalam suasana penuh khidmat. Kegiatan ini bukan sekadar peringatan Isra’ Mi’raj biasa, melainkan sebuah sesi bimbingan psikologi-religius yang menitikberatkan pada cara mengelola duka menjadi energi positif.
Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin, selaku narasumber, mengajak para jamaah menyelami fase terberat dalam hidup Nabi Muhammad SAW. Ia memaparkan betapa hebatnya guncangan batin Rasulullah saat kehilangan Siti Khadijah dan Abu Thalib secara berurutan.
“Amul Huzni mengajarkan kita bahwa kesedihan adalah manusiawi, bahkan bagi seorang Nabi sekalipun. Namun, peristiwa Isra’ Mi’raj yang menyusul setelahnya membuktikan bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya larut dalam lara tanpa jalan keluar,” jelas Syaiful di hadapan 25 jamaah yang hadir.
Ia menambahkan bahwa relevansi kisah ini sangat kuat bagi ibu-ibu masa kini. Beban domestik, dinamika ekonomi, hingga tantangan mendidik anak di era digital seringkali memicu kelelahan mental. Dengan meneladani ketabahan Rasulullah, para ibu diharapkan mampu melakukan “Mi’raj” secara spiritual—yakni bangkit dari keterpurukan menuju kedekatan yang lebih tinggi kepada Sang Pencipta.
Ketua MT Nasyiatul ‘Aisyiyah Ranting Bulu, Khusnul Khotimah, mengapresiasi pendekatan humanis yang dilakukan KUA Pagentan. Menurutnya, narasi Amul Huzni memberikan perspektif baru bahwa ujian hidup adalah sarana “kenaikan kelas” iman.
“Kami merasa mendapatkan suntikan semangat baru. Materi ini sangat menyentuh sisi emosional kami sebagai perempuan dan istri. Kami diingatkan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada kemuliaan yang menanti,” tuturnya.
Terpisah, kegiatan ini juga mempertegas komitmen KUA Pagentan dalam melakukan re-branding institusi. KUA kini tidak lagi hanya dipandang sebagai “kantor urusan nikah” yang bersifat administratif, tetapi telah bertransformasi menjadi pusat konsultasi agama dan pembinaan mental yang inklusif hingga ke pelosok desa. Melalui sinergi dengan organisasi masyarakat seperti Nasyiatul ‘Aisyiyah, KUA Pagentan optimis dapat mewujudkan masyarakat yang religius dan memiliki ketahanan mental yang kokoh di masa depan.
(msa/azd)
