Banjarnegara – Program Literasi Ramadhan MIFABARA kembali menghadirkan tulisan reflektif di hari keempat bulan suci. Kali ini, Ananda Qotrunnada menyuarakan pesan yang sederhana namun penuh makna melalui tema, “Puasa Bukan Hanya Tentang Menahan Makan, Tapi Juga Menahan Lidah dari Perkataan Buruk.”(21/2)
Dalam tulisannya, Qotrunnada menggambarkan bahwa lapar dan haus hanyalah bagian lahiriah dari puasa. Menurutnya, ujian yang lebih berat justru terletak pada kemampuan menjaga ucapan. Ia menuliskan bahwa satu kata kasar dapat melukai hati orang lain, sementara satu kalimat baik bisa menjadi doa dan penyejuk jiwa.
“Puasa mengajarkan kita untuk berpikir sebelum berbicara,” tulisnya. Ia juga mencontohkan bagaimana di sekolah, siswa sering kali bercanda tanpa sadar menyakiti teman. Ramadhan, menurutnya, adalah momen terbaik untuk belajar menahan diri, memilih kata yang baik, dan membiasakan berbicara dengan sopan.
Guru pembimbing Literasi Ramadhan mengapresiasi kedalaman pesan yang disampaikan Qotrunnada. “Ia mampu memahami bahwa esensi puasa adalah pengendalian diri secara menyeluruh. Menjaga lisan adalah bagian penting dari akhlak seorang pelajar,” tuturnya.
Kepala Madrasah pun memberikan penguatan atas tema tersebut. “Lisan adalah cermin hati. Jika anak-anak sudah belajar menjaga perkataannya sejak dini, insyaAllah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang santun dan berkarakter. Ramadhan memang madrasah terbaik untuk melatih itu,” ungkap beliau.
Salah satu orang tua siswa turut menyampaikan rasa bangga. “Kami sangat bersyukur anak-anak dibimbing untuk memahami makna puasa lebih dalam. Di rumah pun kami terus mengingatkan pentingnya berkata baik atau diam,” ujarnya.
Melalui Literasi Ramadhan, MIFABARA terus menanamkan nilai bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi proses pembentukan akhlak. Di hari keempat ini, pesan Qotrunnada mengalir lembut namun tegas—bahwa puasa sejati bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga kata agar tetap indah, menyejukkan, dan penuh keberkahan. (nas)
