Banjarnegara (Humas) — Dalam upaya memperkuat pembinaan umat di bulan suci Ramadan, Penyuluh Agama Islam KUA Wanadadi, Namyroh Ndaruwati, menyampaikan materi bertema Keutamaan Bulan Ramadan dalam Membentuk Manusia Bertakwa di Majelis Taklim Al Ikhlas Desa Karangkemiri, Senin (2/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan ini dihadiri oleh jamaah Majelis Taklim Al Ikhlas yang antusias mengikuti setiap rangkaian acara. Dalam pemaparannya, Namyroh menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum istimewa yang Allah Swt hadirkan sebagai sarana pembinaan diri menuju derajat takwa.
Mengutip QS. Al-Baqarah ayat 183, ia menjelaskan bahwa tujuan utama diwajibkannya puasa adalah agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa, menurutnya, bukan hanya tercermin dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam sikap hidup sehari-hari seperti kejujuran, kesabaran, kepedulian sosial, serta kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
“Ramadan adalah madrasah ruhani. Selama satu bulan penuh kita dilatih menahan diri, memperbanyak amal saleh, memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus mempererat ukhuwah dengan sesama. Jika proses ini dijalani dengan sungguh-sungguh, maka lahirlah pribadi yang bertakwa,” ujar Namyroh.
Ia juga memaparkan berbagai keutamaan bulan Ramadan, di antaranya dilipatgandakannya pahala, dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, serta hadirnya malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Selain itu, Ramadan menjadi momentum memperbanyak sedekah, memperkuat empati sosial, dan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
Dalam sesi interaktif, jamaah menyampaikan berbagai pertanyaan seputar cara menjaga konsistensi ibadah pasca-Ramadan. Menanggapi hal tersebut, Namyroh menekankan pentingnya menjaga kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan suci.
“Jangan jadikan Ramadan sekadar rutinitas tahunan. Jadikan ia sebagai titik balik perubahan diri. Ukuran keberhasilan Ramadan adalah ketika akhlak kita semakin baik setelahnya,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Penyuluh Agama Islam Dewi Kholifah turut menyampaikan materi tentang Al-Qur’an sebagai penyejuk jiwa. Ia menekankan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, sehingga umat Islam dianjurkan untuk semakin dekat dengan kitab suci tersebut.
“Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungi dan diamalkan. Ketika hati gelisah, Al-Qur’an menjadi penenang. Ketika jiwa terasa sempit, Al-Qur’an melapangkannya,” tutur Dewi Kholifah.
Ia mengutip firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Menurutnya, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an di bulan Ramadan akan memberikan ketenangan batin sekaligus memperkuat kualitas ketakwaan seseorang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Agama Republik Indonesia dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama masyarakat melalui pembinaan berkelanjutan oleh para penyuluh agama di tingkat akar rumput.
Di akhir kegiatan, Namyroh menyampaikan pesan penutup, “Semoga Ramadan tahun ini benar-benar mengantarkan kita menjadi insan yang lebih bertakwa, lebih peduli, dan lebih bermanfaat bagi sesama.”
Melalui kegiatan pembinaan seperti ini, Kementerian Agama terus meneguhkan perannya dalam membangun umat yang religius, moderat, dan berakhlak mulia, demi terwujudnya masyarakat yang harmonis dan penuh keberkahan.
(NN, azd)
