Menjemput Husnul Khotimah di Era Modern: Penyuluh Ajak Lansia Majelis Taklim As-Siddiq Fokus Ibadah dan Jaga Kesehatan

Banjarnegara (Humas) – Suasana syahdu menyelimuti Dusun Pagentan pada Kamis (21/5/2026). Di tengah udara sejuk pegunungan, puluhan ibu-ibu sepuh melangkahkan kaki menuju kediaman Slamet Indriyati. Tepat pukul 14.00 WIB, mereka berkumpul dalam bingkai silaturahmi Majelis Taklim As-Siddiq untuk mengikuti bimbingan penyuluhan agama yang dibawakan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, Alfiana Nurhidayah.

Mengingat mayoritas jamaah adalah para orang tua dan lansia yang tinggal di lingkungan pedesaan, Alfiana mengangkat tema yang sangat dekat dengan batin mereka: “Meniti Jalan Cahaya di Usia Senja: Menyeimbangkan Kesalehan Ritual dan Kesehatan Tubuh sebagai Syukur Nikmat.”

Ibadah di Masa Tua: Kualitas di Atas Kuantitas

Dalam tausiyahnya, Alfiana menekankan bahwa usia senja bukanlah penghalang untuk produktif secara spiritual. Namun, ia mengingatkan agar para jamaah tidak memaksakan diri secara fisik hingga mengabaikan kesehatan yang merupakan amanah dari Allah Swt. Beliau mengajak para ibu untuk lebih mendalami makna ikhlas dan sabar dalam menghadapi penurunan kondisi fisik yang sering dialami lansia.

“Ibu-ibu yang saya cintai karena Allah, di usia emas ini, fokus kita bukan lagi seberapa banyak rakaat yang sanggup kita jalankan dengan berdiri, tapi seberapa besar kehadiran hati (khusyuk) kita kepada Allah. Islam itu indah dan memudahkan; jika lutut sudah terasa linu, shalat duduk pun tetap mulia di mata-Nya,” tutur Alfiana dengan nada lembut yang menyejukkan.

Ia juga menyinggung pentingnya menjaga pola makan dan istirahat sebagai bentuk syukur atas umur panjang yang diberikan. Menurutnya, menjaga kesehatan di masa tua adalah bagian dari upaya agar tetap bisa menjalankan ibadah dengan optimal.

Pesan Tuan Rumah dan Kehangatan Jamaah

Slamet Indriyati, sebagai tuan rumah sekaligus tokoh yang dituakan di majelis tersebut, tampak khidmat mendengarkan setiap arahan. Beliau menyampaikan bahwa kehadiran penyuluh agama ke desa-desa memberikan semangat baru bagi para orang tua yang terkadang merasa kesepian atau jauh dari akses informasi keagamaan yang moderat.

“Kami yang sudah tua-tua ini seringkali merasa cemas dengan perubahan zaman. Namun, penjelasan Ibu Alfiana membuat kami tenang. Beliau mengingatkan kami bahwa tugas utama kami sekarang adalah memperbanyak dzikir, menjaga kerukunan antar tetangga, dan menularkan doa baik untuk anak cucu,” ungkap Ibu Slamet Indriyati dengan penuh rasa syukur.

Membangun Ketahanan Mental Lansia

Selain aspek ibadah, Alfiana juga menyelipkan pesan tentang ketahanan mental. Di tengah maraknya informasi yang seringkali membuat cemas, ia berpesan agar para lansia di Desa Pagentan tidak mudah terpancing berita-berita yang belum jelas kebenarannya, terutama yang didengar dari mulut ke mulut. Ia mendorong jamaah untuk tetap menjadi teladan kesabaran bagi generasi muda di lingkungan mereka.

Acara yang berlangsung selama 90 menit tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab santai seputar tata cara ibadah bagi penderita sakit (salat dhabit) dan doa bersama untuk keselamatan bangsa. Kehadiran seluruh anggota Majelis Taklim As-Siddiq yang tetap setia hingga akhir acara menunjukkan betapa pentingnya pendampingan agama yang bersifat humanis dan menyentuh sisi emosional para lansia di pedesaan.

Melalui kegiatan ini, KUA Pagentan berharap para orang tua tidak hanya sehat secara jasmani, tetapi juga memiliki ketenangan batin dalam menjalani sisa usia dengan penuh keberkahan.

(an/azd)

Skip to content