Dari Hati, Menjadi Pribadi yang Lebih Baik: Penyuluh KUA Wanadadi Ajak Jemaah Al Hidayah Jlarang Istiqamah Menebar Kebaikan

Banjarnegara (Humas) — Menjadi pribadi yang lebih baik bukanlah tentang menjadi manusia tanpa kekurangan, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah Swt. Pesan penuh makna inilah yang disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Wanadadi, Namyroh Ndaruwati, dalam kegiatan kepenyuluhan di Majelis Taklim Al Hidayah, Dukuh Jlarang, Desa Wanakarsa, yang bertempat di Aula Al Hidayah pada Selasa (13/10/2026).

Mengusung tema “10 Hal Menjadi Pribadi yang Lebih Baik”, kegiatan ini menjadi ruang pembinaan rohani bagi jemaah untuk merefleksikan diri, memperkuat akhlak mulia, serta menumbuhkan semangat melakukan perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat.

Dalam penyampaiannya, Namyroh menegaskan bahwa perubahan menuju kebaikan harus dimulai dari kesadaran diri sendiri. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, memperhalus tutur kata, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah Swt.

“Menjadi pribadi yang lebih baik tidak harus menunggu kita menjadi sempurna. Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti menjaga lisan, meluruskan niat, membiasakan bersyukur, menghormati orang lain, dan berusaha memperbaiki kesalahan setiap hari. Sebab, perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan istikamah,” tutur Namyroh.

Sepuluh Langkah Menuju Pribadi yang Lebih Baik

Dalam materi kepenyuluhannya, Namyroh menguraikan sepuluh langkah yang dapat diterapkan oleh setiap muslim untuk membangun karakter yang lebih baik, berlandaskan ajaran Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw.

1. Meluruskan niat dan memperbaiki hubungan dengan Allah Swt.

Segala perubahan hendaknya diawali dengan niat yang ikhlas karena Allah. Memperbaiki salat, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, dan meningkatkan kualitas ibadah merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan yang lebih bermakna.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengingatkan bahwa niat menjadi dasar penting dalam setiap amal dan usaha memperbaiki diri.

2. Membiasakan berkata baik dan menjaga lisan.

Lisan dapat menjadi jalan hadirnya kedamaian, tetapi juga dapat melukai hati orang lain. Karena itu, seorang muslim hendaknya membiasakan berkata jujur, santun, tidak menggunjing, tidak memfitnah, dan tidak menyebarkan perkataan yang menyakiti sesama.

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Menjaga salat dan meningkatkan kualitas ibadah.

Salat bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah dan membangun kedisiplinan. Menjaga salat tepat waktu, berusaha khusyuk, serta memperbanyak amal saleh menjadi bagian dari ikhtiar memperbaiki kualitas diri.

4. Mengendalikan amarah dan melatih kesabaran.

Pribadi yang baik bukanlah orang yang tidak pernah marah, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika emosi. Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat agar persoalan tidak diselesaikan dengan kata-kata kasar atau tindakan yang merugikan.

5. Membiasakan bersyukur dan berpikir positif.

Syukur mengajarkan seseorang untuk menghargai nikmat yang telah diberikan Allah, sekecil apa pun bentuknya. Dengan bersyukur, hati menjadi lebih lapang, tidak mudah iri, dan lebih mampu melihat kebaikan di tengah berbagai ujian kehidupan.

6. Menghormati orang tua dan menyayangi sesama.

Akhlak mulia tercermin dari cara seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, menghargai pasangan, serta menjaga hubungan baik dengan tetangga merupakan wujud nyata kesalehan sosial.

7. Menumbuhkan sikap rendah hati dan menjauhi kesombongan.

Rasulullah saw. bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarah.” (HR. Muslim).

Hadis ini menjadi pengingat agar manusia tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain, bersedia menerima nasihat, dan tidak malu mengakui kesalahan.

8. Gemar bersedekah dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Kebaikan tidak selalu diukur dari besarnya materi. Senyuman, bantuan kecil, tenaga yang diberikan dengan ikhlas, serta kepedulian terhadap tetangga yang mengalami kesulitan merupakan bentuk amal yang bernilai.

Rasulullah saw. bersabda:

كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ

“Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

9. Mudah memaafkan dan menjaga silaturahmi.

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi membebaskan hati dari kebencian yang berkepanjangan. Sikap ini perlu dibarengi kebijaksanaan dalam menjaga batasan yang sehat dan memperbaiki hubungan selama memungkinkan.

10. Istikamah dalam belajar dan mengevaluasi diri.

Perbaikan diri membutuhkan proses. Seorang muslim hendaknya terus menambah ilmu, menerima kritik yang membangun, mengevaluasi perilaku, dan tidak mudah menyerah ketika melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah kesediaan untuk kembali memperbaiki diri dan melanjutkan langkah menuju kebaikan.

Rasulullah saw. bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengajarkan bahwa kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten memiliki arti penting dalam perjalanan membentuk pribadi yang lebih baik.

Penyuluh Agama Hadir Menebarkan Inspirasi dan Keteladanan

Lebih lanjut, Namyroh menyampaikan bahwa keberhasilan penyuluhan agama tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi juga dari sejauh mana pesan-pesan tersebut mampu menggerakkan hati dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

“Harapan saya, setelah mengikuti kegiatan ini, kita tidak hanya mengingat sepuluh poin yang telah dibahas, tetapi benar-benar berusaha mempraktikkannya. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari rumah kita, dan dari lingkungan terdekat. Jangan lelah berbuat baik, meskipun kebaikan kita belum tentu mendapatkan pujian dari manusia. Biarlah Allah yang menjadi tujuan utama setiap ikhtiar kita,” ungkapnya.

Melalui kegiatan di Majelis Taklim Al Hidayah, jemaah diajak memahami bahwa menjadi pribadi yang lebih baik merupakan perjalanan sepanjang hayat. Setiap langkah menuju akhlak mulia, setiap ucapan yang menenangkan, dan setiap pertolongan yang diberikan dengan ikhlas merupakan bagian dari upaya menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi sesama.

Kegiatan kepenyuluhan ini sekaligus menjadi wujud peran strategis Penyuluh Agama Islam dalam membimbing umat, memperkuat pemahaman keagamaan, serta mendorong tumbuhnya keluarga dan masyarakat yang religius, harmonis, dan berakhlakul karimah.

KUA Kecamatan Wanadadi melalui Penyuluh Agama Islam terus berkomitmen menghadirkan layanan bimbingan dan penyuluhan keagamaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Diharapkan, kegiatan ini dapat memperkuat keimanan, memperindah akhlak, serta menumbuhkan semangat saling mengingatkan dalam kebaikan.

Sejalan dengan semangat Kementerian Agama Republik Indonesia dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan memperkuat moderasi beragama, penyuluhan ini diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mewujudkan umat yang semakin berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.

(nn/azd)