Banjarnegara (Humas) – Kebahagiaan sejati tidak selalu hadir dari melimpahnya harta, tingginya kedudukan, atau terpenuhinya seluruh keinginan. Terkadang, kebahagiaan justru tumbuh dari hati yang mampu menerima, mensyukuri, dan menghargai setiap nikmat Allah SWT. Pesan inilah yang disampaikan Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Wanadadi, Namyroh Ndaruwati, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama Islam di Majelis Taklim Al Hikmah, bertempat di Masjid Al Hikmah Desa Linggamerta, Kecamatan Wanadadi, Senin (12/10/2026).
Mengangkat tema “Hakikat Syukur”, kegiatan ini mengajak jemaah untuk memahami bahwa syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, melainkan sikap hidup yang melibatkan hati, lisan, dan perbuatan. Dengan bersyukur, seorang muslim belajar melihat kehidupan dari sisi karunia Allah, bukan hanya dari kekurangan yang dirasakan.
Dalam penyampaiannya, Namyroh menjelaskan bahwa manusia kerap terjebak dalam kebiasaan membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Akibatnya, nikmat yang telah dimiliki terasa kecil, sedangkan apa yang belum tercapai seolah menjadi sumber ketidakbahagiaan.
Padahal, nikmat Allah hadir dalam banyak bentuk, mulai dari kesehatan, kesempatan hidup, keluarga, persaudaraan, kecukupan rezeki, hingga kesempatan untuk beribadah dan memperbaiki diri.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa syukur merupakan bagian penting dari penghambaan kepada Allah SWT. Syukur tidak hanya diwujudkan ketika memperoleh kesenangan, tetapi juga melalui kesabaran dan prasangka baik ketika menghadapi ujian kehidupan.
“Jangan menunggu kaya untuk bersyukur, jangan menunggu semua keinginan terpenuhi untuk mengucapkan alhamdulillah. Bisa bangun pagi, masih diberi kesehatan, memiliki kesempatan berkumpul dengan keluarga, dan masih mampu bersujud kepada Allah adalah nikmat luar biasa yang sering kali luput dari perhatian kita,” tutur Namyroh Ndaruwati.
Ia menegaskan bahwa hakikat syukur harus tercermin dalam perilaku nyata. Syukur dengan hati diwujudkan melalui kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Syukur dengan lisan dilakukan dengan memperbanyak pujian kepada-Nya, sedangkan syukur melalui perbuatan diwujudkan dengan menggunakan nikmat untuk kebaikan.
Namyroh juga mengajak jemaah agar menjadikan syukur sebagai benteng dari sifat iri, dengki, dan berlebihan dalam mengejar urusan dunia. Dengan hati yang bersyukur, seseorang diharapkan lebih mampu menghargai perjuangan orang lain, menjaga hubungan keluarga, serta berbagi kepada sesama yang membutuhkan.
Menurutnya, bersyukur bukan berarti berhenti berusaha. Seorang muslim tetap diperintahkan untuk bekerja, berikhtiar, dan memperbaiki kehidupan, tetapi tanpa melupakan Allah sebagai sumber segala karunia.
Melalui penyuluhan ini, Namyroh berharap jemaah Majelis Taklim Al Hikmah dapat membiasakan diri melihat nikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari, memperbanyak hamdalah, serta menjadikan rasa syukur sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kepedulian sosial.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Wanadadi dalam menghadirkan bimbingan keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Penyuluhan tidak hanya diarahkan pada peningkatan pemahaman agama, tetapi juga pada pembentukan akhlak, ketenteraman hati, dan penguatan kehidupan keluarga.
KUA Wanadadi terus berkomitmen hadir membimbing umat dengan hikmah, menebarkan pesan-pesan kebaikan, serta menguatkan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Semoga semangat syukur senantiasa tumbuh di hati masyarakat, menghadirkan ketenangan dalam menghadapi ujian, dan mengantarkan setiap langkah menuju rida serta keberkahan Allah SWT.
(nn/azd)
