Dari Ruang Kelas Menuju Kenangan: Haru Perpisahan PPL UNSIQ di MIFABARA

 Banjarnegara – Waktu terasa berjalan lebih cepat ketika kebersamaan dipenuhi makna. Itulah yang dirasakan keluarga besar MIFABARA saat mahasiswa PPL UNSIQ resmi berpamitan setelah menuntaskan masa pengabdian mereka. Suasana sederhana di halaman madrasah berubah menjadi ruang penuh haru, doa, dan rasa terima kasih yang tulus.(27/2)

Selama menjalani praktik pengalaman lapangan, mahasiswa PPL tidak hanya hadir sebagai calon guru yang menjalankan tugas akademik. Mereka menjelma menjadi kakak, sahabat, sekaligus inspirasi bagi para siswa. Berbagai program kreatif telah mereka hadirkan, mulai dari lomba Pildacil, penguatan literasi Ramadhan, hingga pendampingan belajar yang menyenangkan dan interaktif.

Dalam sambutan perpisahan, salah satu perwakilan mahasiswa PPL menyampaikan rasa syukur atas kesempatan belajar langsung di lingkungan madrasah. “Kami datang untuk mengabdi dan belajar menjadi pendidik. Namun justru di sini kami belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan arti kebersamaan yang sesungguhnya,” tuturnya dengan suara bergetar.

Kepala madrasah turut memberikan apresiasi atas dedikasi yang telah diberikan. “Kehadiran mahasiswa PPL membawa energi baru bagi madrasah. Anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda, dan kami para guru pun merasa terbantu. Semoga langkah ke depan semakin mantap menjadi pendidik yang amanah,” ujarnya penuh harap.

Beberapa siswa tampak tak kuasa menahan rasa sedih. Mereka memberikan ucapan dan kenang-kenangan sederhana sebagai simbol kasih. “Terima kasih sudah sabar mengajari kami. Jangan lupa MIFABARA,” ucap seorang siswa dengan mata berkaca-kaca.

Perpisahan ini menjadi pengingat bahwa setiap pertemuan menyimpan pelajaran. Di ruang-ruang kelas tempat mereka pernah berdiri dan berbagi ilmu, kini tertinggal jejak kenangan yang tak mudah terhapus. Canda, diskusi, bimbingan, dan semangat yang mereka tanamkan akan terus hidup dalam ingatan.

Dari ruang kelas menuju kenangan, perjalanan PPL UNSIQ di MIFABARA mungkin telah usai secara waktu. Namun nilai kebersamaan dan pengabdian yang telah ditorehkan akan tetap abadi—menjadi bagian dari cerita tumbuhnya generasi yang belajar bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang hati.(nas)