Banjarnegara (Humas) – Dalam upaya memperkuat kapasitas keagamaan generasi muda perempuan, Nasyiatul Aisyiyah Ranting Getas menggelar pertemuan rutin yang kali ini mengangkat tema penting seputar pemulasaraan jenazah, dengan fokus pada tata cara mengkafani jenazah. Kegiatan ini berlangsung di Masjid At-Taqwa Dusun Getas, Desa Pringamba dimulai pukul 13.00 WIB hingga menjelang waktu Ashar. (22/9)
Acara tersebut menghadirkan Efatun Vaizah, Penyuluh Agama Islam dari Kecamatan Pandanarum, sebagai narasumber tunggal. Dihadiri oleh 18 anggota Nasyiatul Aisyiyah, kegiatan berlangsung dalam suasana yang hangat namun tetap serius. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap bagian dari penyampaian materi yang bersifat praktis dan sangat aplikatif dalam kehidupan sosial keagamaan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Efatun Vaizah menjelaskan secara rinci mengenai tata cara mengkafani jenazah, mulai dari persiapan alat dan bahan, jumlah lembar kain kafan, hingga urutan pelipatan kain pada jenazah sesuai jenis kelamin. Ia juga menggarisbawahi pentingnya menjaga adab, niat yang ikhlas, dan kehati-hatian dalam menjalankan proses tersebut.
Efatun juga menyampaikan bahwa selama ini, tugas-tugas pemulasaraan jenazah di masyarakat, khususnya untuk jenazah perempuan, sering kali hanya dilakukan oleh kalangan ibu-ibu yang sudah lanjut usia. Kondisi ini tentu menjadi perhatian tersendiri, karena jika tidak ada regenerasi, dikhawatirkan akan terjadi kekosongan peran di masa mendatang.
Kegiatan semacam ini juga menjadi wujud sinergi yang baik antara organisasi masyarakat keagamaan dan penyuluh agama dari KUA Kecamatan Pandanarum dalam membina umat secara langsung di tingkat akar rumput.
Dengan semangat pembinaan dan pemberdayaan seperti ini, diharapkan ke depan akan muncul lebih banyak kader muda perempuan yang siap menjadi pelopor dalam berbagai aspek kehidupan umat, termasuk dalam peran-peran sosial yang selama ini sering diabaikan generasi muda.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan pesan singkat dari Efatun agar para anggota Nasyiatul Aisyiyah tidak berhenti sampai pada teori, tetapi mulai membiasakan diri terlibat dalam kegiatan pemulasaraan jenazah di lingkungan masing-masing, baik sebagai pengamat maupun pelaksana.
Majelis ini menjadi bukti bahwa semangat belajar dan mengabdi masih terus tumbuh di kalangan perempuan muda Islam, khususnya di bawah naungan organisasi seperti Nasyiatul Aisyiyah. (ev, azd)







