Banjarnegara (Humas) — Program Gerakan Keluarga Maslahat (GKM) kembali digulirkan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Wanayasa sebagai bentuk layanan edukasi keagamaan kepada masyarakat. Pada kesempatan ini, Desa Jatilawang menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan yang berfokus pada penguatan ketahanan keluarga berbasis nilai-nilai Islam. Jum’at (17/10/2025).
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Kepala Desa Jatilawang, Lindawati, yang menyampaikan apresiasi sekaligus harapan terhadap manfaat program ini bagi warganya.
“Kami merasa terhormat desa kami dipilih menjadi lokasi kegiatan GKM. Di era sekarang, banyak persoalan rumah tangga muncul bukan karena kurangnya harta, tapi karena lemahnya ilmu dan komunikasi. Pembinaan seperti ini penting agar keluarga di Desa Jatilawang menjadi keluarga yang rukun, taat agama, dan mampu menjadi contoh kebaikan di lingkungan masyarakat,” ujar Lindawati.
Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh narasumber Toto Subagyo, Penyuluh Agama Islam KUA Wanayasa, yang mengulas secara rinci Lima Pilar Keluarga Sakinah. Yaitu: (1) komitmen beragama dalam keluarga, (2) harmoni hubungan suami–istri, (3) pendidikan anak yang berlandaskan iman dan akhlak, (4) tata kelola ekonomi keluarga yang halal dan berkah, serta (5) kontribusi sosial keluarga dalam kehidupan bermasyarakat.

“Keluarga sakinah tidak muncul tiba-tiba. Ia harus dipelihara dengan ilmu, kebiasaan baik, dan keteladanan. Jika lima pilar ini ditegakkan, keluarga akan kokoh, tidak mudah goyah oleh ujian, dan insyaallah menjadi tempat turunnya rahmat Allah,” terang Toto di hadapan peserta.
Dalam pemaparannya, Toto juga menekankan bahwa keluarga adalah madrasah pertama bagi generasi penerus. Keberhasilan pendidikan di rumah akan sangat menentukan baik buruknya tatanan sosial di masa depan.
Usai penyampaian materi, dilakukan sesi tanya-jawab yang berlangsung aktif. Peserta mengajukan beragam pertanyaan terkait dinamika rumah tangga, seperti cara menumbuhkan komunikasi yang sehat, pembagian peran suami–istri, hingga strategi mendidik anak di era digital. Narasumber memberikan jawaban dan contoh aplikatif yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.
Kegiatan GKM di Desa Jatilawang ini ditutup dengan ajakan untuk memperkuat komitmen menjalani kehidupan keluarga sesuai tuntunan agama.
“Mari mulai dari rumah masing-masing. Perbaiki cara bicara, perbaiki ibadah, perbanyak doa, dan jadikan rumah sebagai tempat pulang yang menenangkan. Dari keluarga yang maslahat, lahir masyarakat yang maslahat,” ujar Toto menutup sesi.
Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat Desa Jatilawang semakin memahami pentingnya peran keluarga sebagai pondasi kehidupan, serta mampu menjadikan nilai keagamaan sebagai landasan dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga dan membangun keluarga yang bahagia, rukun, dan diridhai Allah Swt.
(sk,azd)







