Banjarnegara – Memasuki pertengahan Ramadhan, semangat ibadah di MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA) tetap menyala. Di tengah padatnya rangkaian Amaliyah Ramadhan, satu pembiasaan yang terus dijaga dengan istiqomah adalah sholat dhuha bersama setiap pagi usai doa bersama.(27/2)
Begitu lantunan doa pagi selesai, barisan siswa dengan tertib merapatkan saf. Di ruang-ruang kelas maupun musala madrasah, gerakan takbir bergema serempak. Sholat dhuha bukan sekadar rutinitas, melainkan jeda suci di awal hari tempat niat diluruskan dan hati ditenangkan sebelum ilmu ditimba.
Kepala Madrasah MIFABARA menyampaikan bahwa konsistensi adalah ruh dari pendidikan karakter. “Istiqomah itu mungkin terlihat sederhana, tetapi di situlah letak kekuatannya. Anak-anak belajar bahwa kebaikan yang dilakukan terus-menerus akan membentuk pribadi yang kokoh,” tuturnya.
Menurut salah satu guru, pembiasaan ini menjadi pondasi spiritual yang penting. “Sholat dhuha mengajarkan disiplin waktu dan ketundukan kepada Allah. Kami ingin mereka memahami bahwa kesuksesan bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga keberkahan,” ujarnya.
Bagi para siswa, kebiasaan ini mulai terasa sebagai kebutuhan. Salah satu siswa kelas atas mengaku merasa lebih tenang setelah dhuha. “Kalau sudah sholat dhuha, rasanya hati lebih ringan dan semangat belajar,” katanya polos namun penuh makna.
Dalam filosofi pendidikan, pagi adalah simbol harapan. Dan dhuha adalah doa yang dititipkan pada cahaya matahari yang mulai meninggi. Seperti embun yang setia hadir setiap fajar, istiqomah dalam kebaikan mungkin tak selalu terlihat gemerlap, tetapi diam-diam menumbuhkan akar yang kuat.
Di MIFABARA, Ramadhan bukan sekadar hitungan hari menuju Idulfitri. Ia adalah ladang pembiasaan, tempat karakter ditempa perlahan. Sebab mereka percaya, anak yang terbiasa bersujud di pagi hari akan tumbuh menjadi pribadi yang tak mudah goyah di siang kehidupan.
Istiqomah mungkin sunyi, namun dari kesunyian itulah lahir kekuatan sejati. (nas)
