Lagi, Penyuluh dan Mahasiswa Kolaborasi: KUA Mandiraja Produksi Film Pendek Dakwah Komedi “Gas Nikah”

Banjarnegara (Humas) – Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pernikahan tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mandiraja berinovasi dengan membuat film pendek bergenre dakwah komedi berjudul “Gas Nikah di KUA!”.

Film ini disutradarai oleh Hendriyanto, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mandiraja, dengan melibatkan staf KUA Mandiraja sebagai pemeran utama serta mahasiswa magang dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai tim produksi dan pemain pendukung.

Dengan gaya humor khas Banyumasan, film ini mengangkat kisah lucu dan menyentuh tentang pasangan muda yang awalnya memilih nikah siri, namun akhirnya sadar pentingnya pencatatan nikah resmi di KUA demi masa depan keluarga yang lebih baik.

“Melalui film ini, kami ingin memberikan edukasi yang ringan namun bermakna. Banyak masyarakat yang belum paham bahwa nikah tercatat bukan sekadar formalitas, tapi juga perlindungan hukum bagi suami, istri, dan anak,” ujar Hendriyanto, sang sutradara.

Kepala KUA Mandiraja, Irfan Sulastono, memberikan apresiasi atas kreativitas tim.

“Langkah ini sangat positif. Dakwah bisa dilakukan dengan banyak cara, termasuk lewat film. Kami berharap pesan ini sampai ke masyarakat dengan cara yang lebih mudah diterima dan menghibur,” tutur Irfan.

Sementara itu, Wiko, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang turut berperan dalam film ini, menyampaikan pengalaman berkesannya.

 “Kami belajar banyak di lapangan, bukan hanya soal produksi film, tapi juga tentang bagaimana dakwah dikemas dengan cara yang kreatif dan kontekstual. Warga Mandiraja sangat antusias dan suportif,” ujarnya.

Proses syuting dilakukan di sekitar lingkungan KUA Mandiraja, dengan melibatkan masyarakat sebagai figuran. Film ini rencananya akan ditayangkan di media sosial resmi KUA Mandiraja serta kanal YouTube “Penyuluh Mandiraja” sebagai media edukasi publik.

Dengan hadirnya film “Gas Nikah di KUA!”, KUA Mandiraja menunjukkan bahwa dakwah di era digital bisa dikemas secara kreatif, menghibur, dan tetap sarat nilai-nilai keagamaan.

Skip to content