Literasi Ramadhan Hari ke-10: Nabila 5D Ajak Nikmati Proses dan Jadi Versi Terbaik Diri

 Banjarnegara – Tantangan Literasi Ramadhan MIFABARA memasuki hari ke-10 dengan pesan reflektif dari Nabila, siswi kelas 5D. Dalam tulisannya, Nabila mengangkat tema yang begitu relevan bagi generasi masa kini: “Hidup Bukan Lomba, Enjoy Prosesnya.” Ia mengajak teman-temannya untuk mengurangi keluhan, memperbanyak keterampilan, dan menjadi versi terbaik diri sendiri, bukan salinan orang lain.(28/2)

Dalam karyanya, Nabila menulis bahwa sering kali manusia merasa hidup seperti perlombaan. Melihat pencapaian orang lain, muncul rasa ingin cepat berhasil tanpa menikmati proses. “Ramadhan mengajarkan kita sabar. Puasa itu proses, bukan hasil instan,” tulisnya bijak. Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalan yang berbeda.

Nabila juga mengingatkan agar tidak mudah mengeluh. Menurutnya, keluhan hanya melemahkan semangat, sedangkan syukur menguatkan langkah. Ia menuliskan kalimat yang menyentuh, “Kurangi mengeluh, perbanyak skill. Karena kualitas diri tidak lahir dari perbandingan, tetapi dari ketekunan.” Baginya, Ramadhan adalah momentum melatih diri agar lebih disiplin, lebih sabar, dan lebih fokus memperbaiki kemampuan.

Lebih jauh, Nabila menegaskan pentingnya menjadi diri sendiri. “Jadilah versi terbaik dirimu, bukan salinan orang lain,” tulisnya penuh keyakinan. Ia mengajak teman-temannya memahami bahwa Allah SWT menciptakan setiap manusia dengan keunikan masing-masing. Maka, tugas setiap insan adalah mengembangkan potensi yang dimiliki, bukan sibuk meniru orang lain.

Wali kelas 5D mengapresiasi kedewasaan cara berpikir Nabila. “Pesannya sangat dalam. Anak-anak belajar bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang membangun mental yang kuat dan percaya diri,” ujarnya.

Kepala Madrasah MIFABARA, Durotun Nafisah, turut memberikan tanggapan. “Tulisan Nabila mengajarkan nilai kesabaran dan keaslian diri. Jika sejak dini anak-anak memahami pentingnya proses, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah putus asa,” tuturnya.

Melalui literasi hari ke-10 ini, Nabila menegaskan bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling sabar dan konsisten melangkah. Ramadhan menjadi madrasah kehidupan yang melatih jiwa untuk menikmati proses, memperbaiki diri, dan menjadi versi terbaik yang Allah SWT ridhai. (nas)