Banjarnegara (Humas) – Kegiatan rutin kader PKK Desa Badamita, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara, berlangsung dengan penuh antusiasme pada Rabu (24/9). Dalam kesempatan ini, hadir Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) KUA Rakit, Endah Widyawati, yang memberikan materi penyuluhan bertema “Mengelola Konflik dalam Rumah Tangga”.
Dalam pemaparannya, Endah menekankan bahwa konflik merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan berumah tangga. Namun, yang terpenting adalah bagaimana suami istri menyikapinya. “Konflik tidak selalu buruk, justru bisa menjadi jalan untuk saling memahami bila dikelola dengan baik. Kuncinya ada pada komunikasi, kesabaran, dan sikap saling menghargai,” jelasnya.
Beliau juga menambahkan bahwa penyelesaian konflik dengan cara yang sehat dapat mencegah masalah rumah tangga berkembang menjadi persoalan yang lebih serius. “Jangan sampai masalah kecil yang seharusnya selesai di ruang keluarga, justru melebar dan merusak keharmonisan. Itulah pentingnya mengendalikan emosi dan mencari solusi bersama,” imbuhnya.

Selain penyuluhan dari KUA, kegiatan juga diisi oleh Yoga Mawarni dari Puskesmas 2 Rakit yang menyampaikan materi tentang “Pentingnya Menjaga Kesehatan Balita”. Menurutnya, kesehatan anak merupakan fondasi utama bagi masa depan keluarga dan bangsa.
Acara turut mendapat sambutan hangat dari Ketua TP PKK Desa Badamita, Titin Rokhniyati, yang memberikan apresiasi atas sinergi KUA, Puskesmas, dan kader PKK dalam mendukung kesejahteraan keluarga di desa.
Sebagai penutup rangkaian, dilakukan kunjungan lapangan ke rumah salah satu ibu hamil kategori risiko tinggi, yaitu Sulistiowati di Dusun 5 Desa Badamita. Kunjungan ini menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap kesehatan ibu dan anak di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, KUA Rakit kembali menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai lembaga pelayanan administrasi pernikahan, tetapi juga sebagai mitra pembinaan keluarga. Penyuluhan tentang pengelolaan konflik rumah tangga diharapkan mampu memperkuat pondasi keluarga di Desa Badamita, sehingga setiap permasalahan yang muncul dapat diselesaikan dengan cara-cara yang bijaksana.
Sinergi antara KUA, PKK, dan Puskesmas menjadi bukti nyata bahwa ketahanan keluarga tidak bisa dibangun sendiri, melainkan perlu dukungan lintas sektor. Harapannya, kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut, menjangkau lebih banyak keluarga, serta membawa manfaat nyata dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, harmonis, dan sejahtera. Dengan demikian, Desa Badamita bisa menjadi contoh bahwa pembangunan keluarga dimulai dari pembinaan yang konsisten dan kerja sama yang solid. (ars, azd)







