Banjarnegara (Humas) — Di tengah harapan akan turunnya hujan dan tumbuhnya kembali kehidupan, doa menjadi penguat hati sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga bumi. Semangat inilah yang diangkat dalam kegiatan penyuluhan agama bertema “Doa Memohon Hujan: Menghidupkan Harapan Melalui Doa, Kepedulian dan Ikhtiar Menjaga Bumi” yang dilaksanakan di Majelis Taklim Nurul Hikmah, Kandangwani, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Wanadadi, Namyroh Ndaruwati, ini mengajak para anggota majelis taklim untuk memahami bahwa doa memohon hujan bukan sekadar permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan rahmat-Nya, melainkan juga momentum untuk memperkuat keimanan, menumbuhkan kepedulian sosial, serta meningkatkan kesadaran dalam merawat lingkungan.
Dalam penyampaiannya, Namyroh menekankan bahwa doa dan ikhtiar merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Harapan akan turunnya hujan perlu disertai kesungguhan manusia dalam menjaga alam, menggunakan air secara bijaksana, serta menghindari perilaku yang dapat merusak lingkungan.
“Doa memohon hujan bukan hanya tentang mengetuk pintu langit, tetapi juga tentang mengetuk hati kita sendiri. Sudahkah kita bersyukur atas nikmat air, peduli kepada sesama yang membutuhkan, dan sungguh-sungguh menjaga bumi yang Allah titipkan kepada kita?” ungkap Namyroh Ndaruwati dalam penyuluhannya.
Di antara doa yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud ketika Rasulullah ﷺ memohon hujan (salat istisqa) adalah:
اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ
Allāhumma asqi ‘ibādaka wa bahā’imaka, wansyur raḥmataka, wa aḥyi baladakal-mayyit.
Artinya:
“Ya Allah, berilah hujan kepada hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan ternak-Mu, limpahkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang mati (tandus).”
(HR. Abu Dawud)
Ia juga mengajak jamaah untuk tidak pernah kehilangan harapan dalam menghadapi berbagai kondisi kehidupan. Menurutnya, doa merupakan wujud ketundukan dan keyakinan kepada Allah SWT, sedangkan ikhtiar menjadi bukti kesungguhan manusia dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi.
“Ketika kita memohon hujan, mari kita sertai doa dengan kepedulian dan tindakan nyata. Hematlah air, jagalah kebersihan lingkungan, rawatlah pepohonan, dan saling membantu ketika ada saudara kita yang mengalami kesulitan. Sebab, menjaga bumi adalah bagian dari ikhtiar kita dalam mensyukuri karunia Allah SWT,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, jamaah diajak untuk memahami bahwa ajaran agama memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menghadapi persoalan lingkungan dan kebutuhan air. Nilai-nilai spiritual diharapkan mampu melahirkan perilaku yang lebih peduli, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Selain memperkuat pemahaman keagamaan mengenai doa memohon hujan, penyuluhan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan pesan bahwa kepedulian terhadap alam merupakan tanggung jawab bersama. Harapan akan turunnya hujan hendaknya tidak berhenti pada untaian doa, tetapi diwujudkan melalui langkah nyata yang dapat dimulai dari rumah, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Dengan semangat kebersamaan, Majelis Taklim Nurul Hikmah diharapkan dapat menjadi ruang tumbuhnya kesadaran spiritual dan kepedulian ekologis di tengah masyarakat. Sebab, ketika doa dipanjatkan dengan penuh keyakinan dan ikhtiar dilakukan dengan ketulusan, harapan akan kehidupan yang lebih baik akan terus terpelihara.
Doa menumbuhkan harapan, kepedulian menguatkan persaudaraan, dan ikhtiar menjaga bumi menjadi wujud syukur atas amanah kehidupan. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya, menurunkan hujan yang membawa keberkahan, serta menjadikan setiap langkah kebaikan sebagai amal yang bermanfaat bagi sesama dan alam semesta.
Penyuluh Agama KUA Kecamatan Wanadadi hadir untuk membimbing umat, menguatkan nilai-nilai keagamaan, dan menumbuhkan kepedulian demi terwujudnya masyarakat yang religius, harmonis, serta peduli lingkungan.
(nn/azd)
