Banjarnegara (Humas) – Kesadaran akan peran vital orang tua dalam membentuk karakter anak menjadi titik fokus dalam kegiatan bimbingan penyuluhan yang sukses dilaksanakan oleh Kelompok Bermain (KB) Tunas Harapan Majasari pada hari Rabu (29/10). Dengan mengusung tema penuh makna, “Anak Adalah Amanah: Menyemai Kasih, Menuai Masa Depan,” acara ini dihadiri secara khidmat dan antusias oleh 34 wali siswa.
Kegiatan ini secara khusus menghadirkan M. Syaiful Abidin, Penyuluh Agama Islam dari KUA Pagentan, yang memberikan perspektif spiritual dan praktis mengenai pengasuhan. Dalam pemaparannya, Syaiful Abidin secara tegas mengingatkan bahwa anak bukanlah sekadar keturunan, melainkan “titipan spiritual (amanah) dari Allah” yang membutuhkan pengelolaan (penjagaan) yang benar.
“Menjaga titipan ini berarti memberikan perhatian penuh, kasih sayang tanpa syarat, dan tentu saja, pendidikan yang tepat dan terarah,” jelas Syaiful. Ia menganalogikan pengasuhan dengan bercocok tanam: “Menanam kasih adalah investasi terbaik. Pendidikan yang berlandaskan cinta akan menghasilkan tunas-tunas yang tumbuh dengan empati sosial, rasa tanggung jawab tinggi, dan fondasi iman yang kokoh.”
Lebih jauh, Syaiful mengajak para orang tua untuk keluar dari jebakan orientasi pendidikan yang hanya berfokus pada duniawi. Ia menekankan bahwa tujuan sejati pendidikan adalah menghasilkan insan kamil. “Tugas kita bukan hanya mencetak anak yang pandai dalam ilmu dunia. Lebih utama, kita harus memastikan mereka menjadi anak yang mengenal dan takut kepada Tuhannya, menghormati orang tua, dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama,” tegasnya. Hal ini menyoroti pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan.
Subekti, Kepala KB Tunas Harapan Majasari, menyambut baik kegiatan perdana ini, menganggapnya sebagai penguatan visi lembaga. “Pesan bapak penyuluh telah menegaskan keyakinan kami bahwa keberhasilan hakiki pendidikan anak terletak pada penanaman nilai-nilai, kasih sayang, dan akhlak yang kuat sejak usia dini,” ungkapnya. Beliau berharap bahwa pemahaman ini tidak hanya berhenti di ruang penyuluhan, namun dapat ditransformasikan menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari setiap keluarga.
Kegiatan bimbingan ini berfungsi sebagai pendorong kolektif bahwa tugas mendidik adalah sebuah ibadah yang berkelanjutan. Diharapkan, komitmen para orang tua di KB Tunas Harapan Majasari untuk mengalokasikan waktu berkualitas, ilmu yang bermanfaat, dan cinta terbaik dapat terus dipertahankan. Karena, setiap benih kasih yang ditanam dan dijaga hari ini adalah modal utama untuk melahirkan generasi emas yang akan membawa keberkahan dan harapan besar bagi masa depan bangsa Indonesia.
(msa/azd)







