Banjarnegara (Humas) – Dua siswa berbakat dari MTs Negeri 1 Banjarnegara, Nandra dan Azka, menunjukkan kepedulian mendalam terhadap isu sosial dengan melakukan penelitian tentang fenomena “fatherless”. Dalam rangka mengumpulkan data dan wawasan yang komprehensif, mereka mengunjungi dan mewawancarai pengurus Yayasan Panti Asuhan Yatim PKU Aisyiyah Blambangan.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari metodologi riset mereka untuk memahami dampak ketiadaan sosok ayah dalam kehidupan anak-anak.
Istilah fatherless merujuk pada kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran atau peran aktif figur seorang ayah. Fenomena ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kematian, perceraian, hingga ketidakhadiran secara emosional.
Nandra dan Azka memilih topik ini karena merasa penting untuk menggali lebih dalam dampak psikologis, sosial, dan akademis yang dialami oleh anak-anak dalam situasi tersebut. Panti asuhan menjadi lokasi yang tepat untuk penelitian mereka karena di sanalah mereka dapat bertemu langsung dengan individu yang mengalami kondisi ini dan mendapatkan perspektif dari para pengasuh yang berinteraksi langsung dengan mereka setiap hari.
Pembimbing riset Musfiatul Muniroh, menyampaikan apresiasinya terhadap pilihan topik yang diangkat oleh anak didiknya.
“Penelitian ini adalah bukti bahwa siswa madrasah memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Menggali isu fatherless membutuhkan empati dan pendekatan yang hati-hati. Melalui wawancara dengan pengurus yayasan, mereka belajar metodologi penelitian kualitatif, seperti cara mengajukan pertanyaan yang tidak menyakiti, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menganalisis informasi secara mendalam,” tutur Musfiatul Muniroh.
Ia menambahkan, pendekatan yang dilakukan Nandra, Azka ini sangat matang dan menunjukkan potensi besar mereka sebagai peneliti muda.
Kedatangan tim riset MTs Negeri 1 Banjarnegara disambut hangat oleh Pengurus Yayasan Panti Asuhan Yatim PKU Aisyiyah Blambangan. Mbah Muslich salah satu pengurus yayasan, menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan penelitian semacam ini.
“Kami sangat terkesan dengan inisiatif anak-anak madrasah ini. Jarang sekali ada siswa setingkat SMP yang berani mengangkat isu seberat ini. Penelitian mereka sangat penting, karena pemahaman yang lebih baik tentang kondisi anak-anak tanpa ayah akan membantu kami sebagai pengelola panti asuhan untuk merancang program pengasuhan yang lebih efektif,” ujar Mbah Muslich.
Mbah Muslich juga membagikan beberapa pengalaman dan tantangan yang dihadapi panti dalam memberikan pendampingan psikologis dan emosional kepada anak-anak yatim.
Nandra mengungkapkan motivasi awal mereka.
“Kami sering mendengar istilah fatherless dan ingin tahu lebih banyak tentang dampak nyatanya. Kami berharap penelitian ini bisa membuka mata banyak orang tentang pentingnya peran ayah, atau figur pengganti ayah, dalam tumbuh kembang anak,” kata Nandra.
Ia juga menceritakan bagaimana pengalaman mewawancarai pengurus yayasan memberinya wawasan baru tentang kompleksitas isu tersebut.
Sementara itu, Azka fokus pada proses wawancara.
“Kami berusaha untuk bertanya dengan sopan dan penuh empati. Mbah Muslich sangat terbuka dan ramah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Beliau berbagi banyak hal, termasuk bagaimana panti ini berupaya menjadi rumah kedua yang memberikan kasih sayang dan bimbingan moral bagi anak-anak. Informasi ini sangat berharga untuk penelitian kami,” jelas Azka.
Azka juga menambahkan, “Pengalaman ini benar-benar mengubah cara pandang kami. Kami jadi lebih bersyukur dan menyadari bahwa banyak anak-anak yang membutuhkan dukungan lebih. Tujuan kami adalah tidak hanya menyelesaikan penelitian, tetapi juga membuat rekomendasi yang bisa membantu panti asuhan atau lembaga lain dalam menangani isu fatherless.”
Kegiatan wawancara ini menjadi salah satu dari serangkaian tahapan penelitian yang akan dilakukan Nandra dan Azka. Dengan data primer yang mereka peroleh dari yayasan, mereka akan melanjutkan analisis dan menyusun laporan penelitian. Dedikasi tim riset MTs Negeri 1 Banjarnegara ini membuktikan bahwa dunia pendidikan tidak hanya mencetak insan yang cerdas secara akademis, tetapi juga pribadi yang peka terhadap lingkungan sosial, siap memberikan kontribusi nyata, dan menjadi agen perubahan positif di masyarakat. (Lin/La)







