Banjarnegara (Humas) – Suasana kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama tampak dalam kegiatan pelatihan pembuatan Dawet Ayu yang dilaksanakan pada Kamis (5/3/2025), bertepatan dengan momentum bulan Ramadhan. Kegiatan ini berlangsung di Padepokan Dhammaloka Amara yang berada di Desa Merden, Banjarnegara.
Pelatihan ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang agama, di antaranya pemeluk agama Buddha dan Kristen. Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana memperkuat nilai toleransi, kebersamaan, dan gotong royong di tengah masyarakat yang beragam.
Dalam kegiatan tersebut, penyuluh agama Islam Hendriyanto hadir sebagai narasumber sekaligus pelatih pembuatan Dawet Ayu, minuman tradisional khas Banjarnegara. Selain praktik langsung membuat dawet, kegiatan juga diisi dengan dialog ringan tentang pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama, terutama dalam kehidupan sosial masyarakat desa.
Sebagai penyuluh agama Islam, Hendriyanto menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun moderasi beragama melalui pendekatan budaya dan ekonomi kreatif masyarakat.
“Pelatihan ini bukan hanya belajar membuat Dawet Ayu, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antarumat beragama. Apalagi ini dilaksanakan di bulan Ramadhan, yang mengajarkan nilai kesabaran, kepedulian, dan berbagi kepada sesama,” ujar Hendriyanto.
Selain praktik pembuatan dawet, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai peluang usaha minuman tradisional sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan mulai dari pembuatan cendol, santan, hingga penyajian Dawet Ayu yang menjadi kebanggaan Banjarnegara.
Penyuluh Kristen Hanna Rosanawati menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan lintas agama tersebut.
“Kegiatan seperti ini sangat baik karena mempertemukan kita dalam suasana persaudaraan. Walaupun berbeda agama, kita bisa belajar bersama dan saling mendukung dalam kegiatan yang positif bagi masyarakat,” ungkap Hanna.
Hal senada juga disampaikan oleh penyuluh agama Buddha Ade Retno Purwati. Ia menilai kegiatan ini menjadi contoh nyata praktik toleransi yang hidup di masyarakat.
“Melalui kegiatan sederhana seperti pelatihan Dawet Ayu ini, kita bisa membangun kebersamaan. Ini menunjukkan bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan untuk menciptakan harmoni di masyarakat,” ujarnya.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semangat kerukunan antarumat beragama semakin kuat serta mampu menjadi contoh nyata bahwa nilai toleransi dapat dibangun melalui kegiatan sosial, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
