Allah Tidak Menghitung Rakaat, Tapi Menghitung Pengorbanan: Siraman Rohani Ramadan di Puskesmas Mandiraja 2 Menyentuh Hati Tenaga Kesehatan

Banjarnegara (Humas) – Suasana Ramadan di Puskesmas Mandiraja 2 terasa lebih hangat dan penuh makna dengan digelarnya kegiatan siraman rohani bagi ASN tenaga kesehatan, yang diisi oleh penyuluh agama Islam dari KUA Kecamatan Mandiraja. (5/3/2026)

Kegiatan yang berlangsung di aula puskesmas tersebut diikuti oleh para tenaga kesehatan dan staf puskesmas. Siraman rohani ini mengangkat tema yang sangat menyentuh dan relevan bagi para tenaga kesehatan, yaitu “Allah Tidak Menghitung Rakaat, Tapi Menghitung Pengorbanan.”

Dalam penyampaiannya, penyuluh agama Islam Mandiraja, Hendriyanto, mengajak para tenaga kesehatan untuk tidak merasa kecil hati apabila amaliyah Ramadan mereka terasa tidak sebanyak orang lain.

Menurutnya, banyak tenaga kesehatan yang sering merasa sedih karena tidak bisa melaksanakan ibadah Ramadan secara maksimal seperti tarawih penuh, tadarus lama, atau i’tikaf di masjid, karena harus tetap menjalankan tugas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Padahal, dalam perspektif Islam, pengabdian dan pengorbanan yang dilakukan dengan niat ibadah memiliki nilai pahala yang sangat besar di sisi Allah.

Ia menyampaikan bahwa Allah tidak hanya menilai banyaknya rakaat ibadah, tetapi juga melihat kesungguhan, keikhlasan, dan pengorbanan seseorang dalam menjalankan amanah.

“Bapak Ibu tenaga kesehatan mungkin tidak selalu berada di masjid saat Ramadan, tetapi justru berada di ruang pelayanan, di ruang bersalin, di ruang perawatan, membantu masyarakat yang membutuhkan. Jika semua itu diniatkan karena Allah, maka pekerjaan itu bernilai ibadah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan tenaga kesehatan—mulai dari menenangkan pasien, membantu persalinan, hingga melayani masyarakat dengan sabar—dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Dalam materi tersebut juga disampaikan bahwa menahan emosi, tetap sabar saat menghadapi pasien, dan tetap melayani dengan ramah meski dalam kondisi berpuasa merupakan bentuk ibadah yang sangat bernilai.

Kepala Puskesmas Mandiraja 2, dr Yuyun, menyampaikan apresiasi atas kegiatan siraman rohani tersebut.

Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat penting untuk memberikan penguatan spiritual bagi para tenaga kesehatan yang setiap hari menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan kepada masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih atas siraman rohani yang diberikan. Materinya sangat menyentuh dan relevan dengan kondisi kami sebagai tenaga kesehatan yang tetap harus bekerja di bulan Ramadan. Ini menjadi penguat bahwa pekerjaan kami juga bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Hendriyanto menyampaikan bahwa tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat mulia dalam kehidupan masyarakat.

“Tenaga kesehatan adalah orang-orang yang berada di garis depan dalam menjaga kesehatan dan bahkan menyelamatkan nyawa manusia. Dalam Islam, menjaga kehidupan manusia adalah amal yang sangat besar nilainya,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan siraman rohani tersebut dapat menjadi pengingat bahwa pekerjaan yang dijalankan sehari-hari oleh tenaga kesehatan dapat menjadi ladang pahala yang besar apabila disertai dengan niat ibadah dan keikhlasan.

Salah satu tenaga kesehatan, Plenik, mengaku sangat tersentuh dengan materi yang disampaikan.

Menurutnya, sebagai bidan yang sering bertugas membantu persalinan, terutama pada malam hari atau saat bulan Ramadan, ia sering merasa tidak bisa menjalankan ibadah seperti orang lain.

“Terkadang kami harus bertugas saat orang lain tarawih atau saat malam-malam Ramadan. Setelah mendengar materi ini, kami merasa lebih tenang dan termotivasi bahwa pengabdian kami juga bernilai ibadah,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan karena memberikan semangat baru bagi para tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya.

Kegiatan siraman rohani ini diharapkan dapat menjadi penguat spiritual bagi para ASN tenaga kesehatan, khususnya dalam menjalani tugas pelayanan masyarakat di bulan Ramadan.

Dengan pemahaman bahwa setiap pengabdian yang dilakukan dengan niat tulus dapat bernilai ibadah, para tenaga kesehatan diharapkan semakin termotivasi untuk menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan semangat pelayanan.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama agar para tenaga kesehatan diberikan kekuatan, kesehatan, serta keberkahan dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat.