Penyuluh KUA Mandiraja Bedah Karakteristik Mukmin Sejati di Majelis Taklim Tarbiyatun Nisa

Banjarnegara (Humas) – Dalam rangka meningkatkan kualitas pemahaman agama dan penguatan akidah umat, Penyuluh Agama Islam Fungsional dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mandiraja, Dian Setiadi melaksanakan kegiatan penyuluhan rutin di Majelis Taklim (MT) Tarbiyatun Nisa pada Kamis (5/3).

Fokus materi kali ini adalah bedah tafsir Surat Al-Anfal Ayat 2-3, yang dikenal sebagai ayat “Indikator Keimanan”.

Dian memaparkan bahwa iman bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan sebuah energi yang menggerakkan hati dan anggota badan. Berdasarkan tafsir ayat tersebut, terdapat lima kriteria utama seorang Mukmin yang sempurna:

1. Gemetar Hatinya Saat Mengingat Allah (Wajilat Qulubuhum)

Penyuluh menjelaskan bahwa ketika asma Allah disebut, hati seorang mukmin akan merasa bergetar karena rasa takzim (hormat) dan takut yang dibarengi cinta. Hal ini diibaratkan seperti seorang hamba yang sangat mencintai tuannya, sehingga setiap instruksi atau panggilan mendatangkan respons emosional yang kuat.

2. Bertambah Imannya Saat Mendengar Ayat Al-Qur’an

Seorang mukmin tidak akan merasa bosan mendengarkan Al-Qur’an. Sebaliknya, setiap ayat yang dibacakan menjadi nutrisi yang memperkokoh keyakinan. Penyuluh menekankan pentingnya tidak hanya membaca (tilawah), tapi juga memahami makna (tadabbur) agar iman terus bertumbuh.

3. Bertawakal Hanya Kepada Allah

Ciri ketiga adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang maksimal. Tawakal bukan berarti diam, melainkan sikap mental yang tenang karena yakin bahwa hasil akhir ada di tangan Sang Pencipta.

4. Menegakkan Shalat (Iqamatus Shalah)

Memasuki ayat ke-3, penekanan beralih ke aspek ibadah fisik. Penyuluh menggarisbawahi kata “mendirikan” yang berarti menjaga shalat tepat waktu, memenuhi rukun dan syaratnya, serta menjaga kekhusyukan agar shalat berdampak pada perilaku sehari-hari.

5. Dermawan dalam Berinfaq

Ciri terakhir adalah kesediaan menyisihkan sebagian rezeki yang telah Allah berikan. Penyuluh mengingatkan bahwa harta yang kita miliki hanyalah titipan, dan dengan berinfaq, seorang mukmin sedang “meminjamkan” hartanya kepada Allah untuk bekal di akhirat.

Antusiasme jamaah terlihat sangat tinggi, dibuktikan dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Salah satu jamaah bertanya mengenai tips agar tetap khusyuk dalam shalat di tengah kesibukan urusan rumah tangga.

Penyuluh memberikan tips praktis berupa penyederhanaan pikiran sebelum takbiratul ihram dan memahami arti bacaan shalat sebagai bentuk komunikasi langsung dengan Allah.

Kepala KUA Mandiraja melalui tim penyuluhnya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi wacana intelektual, namun mampu merubah karakter jamaah menjadi pribadi yang lebih religius dan peduli sesama.

“Iman itu ibarat pohon; akarnya adalah keyakinan di hati (ayat 2), dan buahnya adalah amal saleh berupa shalat dan infaq (ayat 3). Tanpa buah, pohon itu kurang bermanfaat, namun tanpa akar, pohon itu akan tumbang,” pungkas Dian dalam sesi penutup.