Pelajari Rantai Makanan, Siswa Kelas 5D MIFABARA Buat dan Presentasikan Diorama Ekosistem Alami dan Buatan

Banjarnegara – Suasana kelas 5D MI Al Fatah Parakancanggah-Banjarnegara (MIFABARA) pada Sabtu, (12/10) tampak penuh warna dan semangat. Para siswa tengah memamerkan hasil karya diorama bertema rantai makanan dalam ekosistem alami dan buatan. Kegiatan ini dipandu oleh wali kelas 5D, Laeli Nur Isnaini, sebagai bagian dari pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Dalam proyek ini, setiap kelompok siswa membuat diorama yang menggambarkan proses rantai makanan di dua jenis ekosistem, seperti sawah, kolam, kebun, dan hutan. Dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti kardus bekas, tempat sepatu bekas, kertas warna, dan miniatur hewan, siswa menggambarkan hubungan antara produsen, konsumen, dan pengurai dalam suatu ekosistem.

“Melalui diorama, anak-anak belajar memahami bagaimana energi berpindah dari satu makhluk hidup ke makhluk hidup lain. Mereka jadi tahu bahwa setiap makhluk punya peran penting dalam menjaga keseimbangan alam,” jelas Laeli.

Setelah diorama selesai dibuat, setiap kelompok mempresentasikan hasil karyanya di depan kelas. Mereka menjelaskan alur rantai makanan, peran masing-masing makhluk hidup, serta bagaimana keseimbangan ekosistem bisa terganggu jika salah satu komponen hilang. Suasana kelas terasa hidup karena setiap kelompok tampil percaya diri dan saling memberikan tanggapan atas presentasi teman-temannya.

Salah satu siswa, Dhia, mengaku senang bisa belajar sambil berkreasi dan berbicara di depan kelas. “Saya jadi lebih paham rantai makanan, dan seru bisa menjelaskan di depan teman-teman. Sekarang saya tahu semua makhluk hidup saling bergantung,” ujarnya dengan semangat.

Kepala Madrasah Durotun Nafisah. mengapresiasi kegiatan ini. “Pembelajaran berbasis proyek seperti ini mendorong anak-anak berpikir ilmiah, kreatif, dan komunikatif. Ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar,” tuturnya.

Sebagai bentuk apresiasi, hasil diorama dipajang di tempat hasil karya siswa. Orang tua pun merasa bangga. “Anak saya jadi lebih percaya diri dan semangat belajar,” ungkap Ibu Sulis, salah satu wali murid.

Kegiatan ini membuktikan bahwa belajar sains bisa menyenangkan, melatih keterampilan abad ke-21, sekaligus menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar.(nas)

Skip to content