Pengajar Agama Non-Formal Perpanjangan Tangan Pendidikan Keagamaan

Banjarnegara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di dampingi Wakil Gubernur Gus Yasin secara bersamaan bisa hadir dalam pemberian Insentif kepada 1.806 Pengajar Agama di Madrasah Diniyah dan Pondok Pesantren dalam acara Silaturohmi Gubernur Jawa Tengah dengan ustadz dan Ustadzah Kabupaten Banjarnegara. Kegiatan mengambil tempat Pondok Pesantren Al Fatah-Parakancanggah Banjarnegara Rabu ini (10/04).

“Program ini termasuk program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang masuk dalam DIPA berupa pemberian insentif pendidik agama pada lembaga non formal yakni Madrasah Diniyah dan Pondok Pesantren, “ucap Ganjar Pranowo.

Ucapan terima kasih kepada ustadz dan ustadzah yang ikhlas membimbing anak-anak sejak dini dengan pembekalan ilmu agama, pendidikan akhlak dan pembentukan moral berdasar agama. Para orang tua menitipkan putra-putrinya untuk belajar di Pondok Pesantren  dan Madrasah Diniyah, bisa dikatakan para ustadz-ustadzah sehingga perpanjangan tangan membangun karakter generasi penerus bangsa dengan bekal dan benteng yang tepat, tandasnya.

Perkembangan teknologi menuntut pendidik mengajari dengan cara tepat dan benar dengan harapan generasi muda tetap bisa mengikuti cepatnya perubahan zaman dengan tetap memiliki benteng agama. Kesalahan mendidik bisa menjadi kerusakan dan masalah di masyarakat, “Permainan/ games yang memiliki bentuk kekerasan dan kebrutalan juga perlu dihindari, karena merusak moral, mental anak pada kehidupan nyata,” pesannya.

Pendidik juga perlu memberikan wawasan dan menamkan Ideologi yang sesuai dengan cita-cita dan tujuan para pendiri bangsa, agar tidak terkenal ideologi asing yang tidak tepat dan merusak. Melalui pendidikan agama anak-anak fokus pada kegiatan positif dan terhindar dari informasi seperti Pornografi. Di sini  perlunya antisipasi perkembangan yang serba online dan di mulai dari diri sendiri, yang juga dicontohkan oleh para pendidik.

Melalui pendidikan agama anak-anak fokus pada kegiatan positif dan terhindar dari mis-informasi seperti pornografi. Antisipasi perkembangan dan tingkah laku yang benar di mulai dari diri sendiri, yang juga dicontohkan oleh para pendidik, lanjutnya.

“Insentif yang diberikan mungkin jumlahnya belum seberapa. Semoga semakin tahun bisa meningkat dan juga mendapatkan dukungan anggaran juga dari pemerintah daerah kabupaten sebagai upaya peningkatan kesejahteraan para pendidik agama tersebut, ” kata Gubernur.

Wakil Gubernur, Gus Yasin juga ikut menyampaikan pesan terkait maraknya perilaku hoaks, ujaran kebencian dan adu domba antar ulama. Setiap orang boleh berbeda pilihan, berbeda keyakinan, namun perlu di pahami bahwa bangsa Indonesia memiliki idelogi persatuan yakni Pancasila. “Jadikan perbedaan sebagai sebuah rahmat, tetap miliki keinginan dalam perbedaan untuk tetap membangun perdamaian dan persatuan,” pesannya. (Nangim)