Pesan Khanafi untuk Penyair Muda Madtsansa

Banjarnegara – Kelas Menulis MTs N 1 Banjarneagra baru saja menerbitkan dan membedah buku baru yaitu antologi puisi Brainstorming. Acara bedah buku ini dilaksanakan di Aula Sekda Kabupaten Banjarnegara, (26/10/21).

Khanafi selaku pembedah buku Brainstorming menilai bahwa kelas menulis harus mengetahui sejarah perkembangan puisi terlebih dahulu sebelum memulai acara bedah buku.

“Melalui tulisan kecil ini ijinkan saya diawal menceritakan pembacaan saya atas ‘Puisi’, disamping pada akhirnya akan membicarakan buku yang kini tengah kita rayakan bersama: Antologi Puisi Brainstorming.” ujar Khanafi sebelum membedah buku Antologi Brainstorming Kelas Menulis Madtsansa (MTs N 1 Banjarnegara)

Lelaki kelahiran Banyumas, alumnus Sastra Indonesia di Universitas Soedirman ini menyampaikan pada 17 Desember 2020 lalu, UNESCO menetapkan tradisi pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda.

“Tentu akan menarik untuk membicarakan pantun sebelum beranjak membicarakan soal puisi. UNESCO menilai pantun memiliki arti penting bagi masyarakat Melayu bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial, namun juga kaya akan nilai-nilai yang menjadi panduan moral,” tambahnya

Perlu diketahui, pantun adalah bentuk lisan yang tersebar luas di Asia Tenggara dan telah digunakan di kawasan ini selama ratusan tahun. Pantun berasal dari kata “patun” dalam bahasa Minangkabau yang berarti “petuntun” atau alat menuntun.

Selanjutnya Khanafi menerangkan kepada 35 Siswa kelas menulis bahwa kata pantun memiliki sejarah yang panjang. Kata ini memiliki persamaan dalam bahasa Jawa yaitu “parik”, yaitu kata yang memiliki arti, dan dalam bahasa Sunda “paparikan”.

“Menurut literatur yang saya baca, Pantun digunakan oleh masyarakat pada waktu itu sebagai alat berkomunikasi satu sama lain, dengan menggunakan simbol-simbol untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Ketika itu masa kerajaan, dan pemerintah kerajaan bersikap -kalau disebut dengan istilah sekarang anti-kritik,” tambahnya.

Berdekatan dengan hari sumpah pemuda, Khanafi juga menjelaskan sedikit tentang sejarah “Pada tanggal 28 Oktober 1928, pada malam hari, di gedung Keramat 106 di kota Jakarta, para pemuda juga terutama mahasiswa Bandung dan Jakarta dalam penutupan kongres bahasa mengucapkan Sumpah Indonesia Raya dan dinyanyikannya Lagu Indonesia Raya untuk kali pertama, sumpah itu yang kita kenal sekarang sebagai Sumpah Pemuda.” tuturnya.

Sumpah Pemuda tak lain dan tak bukan adalah puisi. Juga lagu Indonesia Raya karangan W.R. Supratman ditulis dalam bentuk puisi, yaitu soneta.

“Kita harus ingat, bahwa tokoh perjuangan kita di masa-masa awal kemerdekaan adalah para jurnalis dan sastrawan, kita bisa menyebut nama seperti; Soekarno, Hatta, Syahrir, Haji Agus Salim, mereka adalah jurnalis yang juga suka membaca sastra. Kemudian Muhammad Yamin, Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, mereka adalah penyair dan sastrawan,” tutur Khanfi. (ran/ak)