Pesantren Ramadan Progresif di SMAN 1 Banjarnegara: Sinergi Penyuluh Agama Tanamkan Nilai Keislaman pada Generasi Muda

Banjarnegara (Humas) — Kegiatan Pesantren Ramadan Progresif di SMA Negeri 1 Banjarnegara berlangsung khidmat dan penuh semangat pada Rabu–Kamis (11-12/3/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara pihak sekolah dengan Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara yang melibatkan sekitar 30 penyuluh agama Islam untuk memberikan pembinaan keagamaan kepada para siswa.

Salah satu penyuluh yang turut berpartisipasi adalah Dewi Kholifah, Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama Wanadadi. Pada Rabu (11/3/2026), ia menyampaikan materi fikih puasa kepada siswa kelas XI.10. Materi yang disampaikan mencakup pengertian puasa, syarat dan rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, serta hikmah puasa dalam membentuk karakter dan ketakwaan.

Kegiatan berlangsung interaktif dan menarik. Para siswa mengikuti materi dengan penuh antusias. Bahkan beberapa siswa aktif mengajukan pertanyaan seputar persoalan fikih puasa yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu siswa, Aufa Saif Ramadan (XI-10), menanyakan apakah boleh berniat puasa Ramadan langsung untuk satu bulan penuh. Menanggapi hal tersebut, Dewi Kholifah menjelaskan bahwa dalam fikih puasa, khususnya menurut mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadan dianjurkan dilakukan setiap malam untuk puasa keesokan harinya.

“Dalam mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadan sebaiknya dilakukan setiap malam sebelum fajar. Jika seseorang berniat untuk satu bulan penuh di awal Ramadan sebagai bentuk tekad itu boleh saja, namun tetap dianjurkan memperbarui niat setiap malam,” jelasnya.

Pertanyaan lain datang dari Aruna Valerian (XI-10) yang menanyakan cara menahan marah saat menjalankan ibadah puasa. Menurut Dewi Kholifah, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian emosi dan hawa nafsu.

“Ketika merasa marah saat berpuasa, kita dianjurkan membaca ta’awudz, mengingat bahwa kita sedang berpuasa, serta menenangkan diri dengan berdzikir atau menjauh sementara dari hal yang memicu emosi. Puasa adalah latihan kesabaran dan pengendalian diri,” ujarnya.

Selanjutnya pada Kamis (12/3/2026), Dewi Kholifah kembali memberikan materi kepada siswa kelas X.6 dengan tema pergaulan bebas. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak para siswa untuk memahami pentingnya menjaga diri dan memilih lingkungan pergaulan yang sehat serta sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

“Remaja harus memiliki prinsip dan pegangan nilai agama. Dengan begitu, mereka mampu menjaga kehormatan diri serta membangun masa depan yang lebih baik,” tambahnya.

Kegiatan Pesantren Ramadan Progresif ini menjadi bagian dari upaya pembinaan spiritual bagi para siswa selama bulan suci Ramadan. Melalui sinergi antara dunia pendidikan dan penyuluh agama, diharapkan para siswa semakin memahami ajaran Islam serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sejalan dengan semangat Kementerian Agama Republik Indonesia, kegiatan ini diharapkan dapat terus memperkuat karakter religius generasi muda, menanamkan nilai-nilai moderasi beragama, serta membentuk pelajar yang beriman, berakhlak mulia, dan berwawasan kebangsaan.(DK,azd).