Banjarnegara (Humas) – MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menghadirkan episode terbaru dari podcast Madtsansa Ada Apa edisi ke-17 dengan tema “Merangkai Kata, Menyulam Makna – Cerita dan Program dari Kelas Unggulan Sastra dan Seni Madtsansa”. Podcast berdurasi sekitar 60 menit ini menghadirkan Koordinator Kelas Unggulan Sastra dan Seni, Ki Sarno, serta sastrawati belia Madtsansa, Abilla Tarabia Nurizki.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, menyampaikan apresiasinya terhadap terbitnya edisi ke-17 ini.
“Podcast Madtsansa Ada Apa menjadi sarana ekspresi dan komunikasi kreatif yang luar biasa. Melalui edisi ini, kita bisa menyimak bagaimana Kelas Unggulan Sastra dan Seni tidak hanya mengasah kemampuan menulis, tapi juga membentuk karakter dan sensitivitas estetika siswa. Saya bangga melihat bagaimana guru dan siswa berkolaborasi menciptakan budaya literasi yang hidup di madrasah,” ungkapnya.
Dalam podcast, Ki Sarno sapaan akrab Sarno, menjelaskan latar belakang pembentukan kelas unggulan yang kini menjadi kebanggaan Madtsansa.
“Awalnya kami melihat banyak siswa memiliki potensi besar di bidang sastra, tapi belum ada wadah khusus. Maka kami bentuk Kelas Unggulan Sastra dan Seni ini agar potensi mereka bisa berkembang terarah. Tujuannya sederhana: membentuk sastrawan muslim berkarakter, yang menulis karya mendidik dan menghibur,” paparnya.
Lebih lanjut, Ki Sarno juga menuturkan bahwa proses pembelajaran di kelas unggulan berjalan secara utuh dari ide hingga publikasi.
“Setiap semester ada bimbingan, pelatihan, dan kurasi karya. Karya yang lolos diterbitkan menjadi buku antologi dengan ISBN resmi. Kami ingin anak-anak memahami bahwa menulis bukan sekadar tugas, tapi perjalanan kreatif yang nyata,” imbuhnya.
Sementara itu, Abilla Tarabia Nurizki, siswi kelas 8 unggulan Sastra dan Seni yang menjadi narasumber kedua, berbagi pengalaman mengikuti proses kreatif di kelas tersebut. “Setiap minggu kami punya sesi menulis. Dari situ aku belajar menggali ide, menulis dengan teknik, dan memahami bahwa menulis itu proses panjang. Saat karya kami akhirnya diterbitkan, rasanya luar biasa bangga,” ungkap Abilla.
Ia juga menuturkan bahwa kegiatan seperti Safari Duta Baca dan lomba FLS3N memberikan pengalaman penting baginya.
“Aku belajar bahwa literasi bukan cuma membaca buku, tapi juga menyebarkan semangat membaca dan berkarya kepada teman-teman,” tambahnya.
Sebagai host, Linara mengaku terkesan dengan konsistensi dan kedalaman program Kelas Unggulan Sastra dan Seni.
“Setiap episode Madtsansa Ada Apa selalu menghadirkan inspirasi baru. Kali ini, saya benar-benar tersentuh melihat bagaimana sastra menjadi media pembelajaran karakter di Madtsansa. Bukan hanya menulis, tapi juga menanamkan nilai kehidupan,” ujarnya.
Di segmen pembacaan puisi, Abilla menampilkan puisinya berjudul Sepi yang Meminjam Suara. Melalui lantunan lembut, ia menggambarkan makna diam dan sepi sebagai bentuk kekuatan batin.
“Aku ingin menyampaikan bahwa diam dan sepi pun bisa punya suara, asal kita mau mendengarkan,” katanya penuh makna.
Menutup podcast, Ki Sarno berharap kelas unggulan ini terus tumbuh menjadi ruang kreatif yang produktif.
“Saya berharap kelas ini terus hidup dan berkembang. Tidak hanya mencetak penulis, tapi melahirkan generasi yang berani berpikir dan berjiwa seni,” pesannya.
Salah satu siswa kelas VII B unggulan sastra Amira, yang turut menyimak tayangan tersebut, mengaku terinspirasi.
“Aku jadi sangat ingin segera memiliki buku solo. Karena menulis itu memang sangat menyenangkan dan membanggakan,” ucapnya antusias.
Podcast Madtsansa Ada Apa edisi ke-17 ini kembali menegaskan komitmen MTs Negeri 1 Banjarnegara dalam mengembangkan budaya literasi dan kreativitas. Melalui ruang dengar digital ini, madrasah terus menyalakan semangat menulis, membaca, dan berkarya di kalangan generasi muda Banjarnegara. (Fy/La)







