Banjarnegara (Humas) — Dalam rangka meningkatkan pemahaman umat tentang ibadah Ramadan, Majelis Taklim Nurul Iman Kandangwangi menggelar kajian bertema hal-hal yang membatalkan puasa pada Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Bodro bersama Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama Wanadadi, Namyroh Ndaruwati dan Dewi Kholifah.
Dalam pemaparannya, Ustadz Bodro menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan ibadah yang memiliki rukun, syarat, serta hal-hal yang dapat membatalkannya. “Di antara yang membatalkan puasa adalah makan dan minum dengan sengaja, muntah dengan sengaja, berhubungan suami istri di siang hari, keluar darah haid atau nifas, serta murtad. Karena itu, penting bagi kita memahami fikih puasa agar ibadah kita sah dan diterima Allah Swt,” jelasnya di hadapan jamaah.
Ia juga menegaskan bahwa ketidaktahuan sering kali menjadi penyebab kurang sempurnanya ibadah. Oleh karena itu, majelis ilmu menjadi sarana penting untuk memperdalam pemahaman agama, khususnya di bulan suci Ramadan.
Sementara itu, Penyuluh Agama Islam Namyroh Ndaruwati dalam sesi perkenalan menyampaikan tugas dan fungsi penyuluh sebagai perpanjangan tangan Kementerian Agama di tengah masyarakat. “Penyuluh Agama Islam adalah corong Kementerian Agama, khususnya KUA Wanadadi, yang memiliki tugas memberikan pembinaan, penyuluhan, serta edukasi keagamaan agar masyarakat semakin cerdas dan moderat dalam beragama,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Dewi Kholifah menambahkan bahwa keberadaan penyuluh di majelis taklim tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendampingi umat dalam menyelesaikan persoalan keagamaan sehari-hari. “Kami hadir untuk membersamai masyarakat, memberikan pemahaman yang benar sesuai tuntunan syariat, sekaligus memperkuat nilai-nilai keimanan dan ketakwaan,” tuturnya.
Suasana pengajian berlangsung khidmat dan interaktif. Jamaah terlihat antusias mengajukan pertanyaan seputar kondisi-kondisi yang kerap menimbulkan keraguan dalam berpuasa, seperti penggunaan obat, suntik, atau lupa makan dan minum. Diskusi yang hangat menunjukkan tingginya semangat masyarakat dalam menjaga kualitas ibadah Ramadan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan jamaah Majelis Taklim Nurul Iman semakin memahami batasan-batasan syariat sehingga dapat menjalankan puasa dengan penuh kesadaran, kehati-hatian, dan keikhlasan.
Kementerian Agama melalui KUA Wanadadi berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, memberikan pembinaan keagamaan yang mencerahkan demi terwujudnya umat yang taat, berilmu, dan berakhlak mulia.
(NN/azd)
